Bersekolah di Taiwan.

Ada yang menarik bersekolah di Taiwan, eh ane sampai lupa. Jadi ane sekarang sedang berada di Lab H105 tercinta. Seperti biasanya, huruf H menunjukkan nama gedung sedangkan 105, ruangan nomor 5 yang berada di lantai satu. Hari ini, lagi-lagi ane kLABbing malem hari, seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada alasan yang lebih kuat untuk nge-lab di malam hari kecuali karena ane memang tidur di siang hari. Kebiasaan buruk, sangat tidak baik untuk dicontoh.

Seperti malam-malam biasanya, kegiatan di laboratorium bisa berlangsung hingga 24 jam. Hanya “pemain”nya saja yang berbeda, jadi ada yang punya shift siang, ada yg punya jadwal ronda malam. Jadi nggak ada matinye..

Tadinya berniat menyelesaikan pengujian kadar air di sampel ane, terus sekalian browsing paper buat bahan seminar ane 1 minggu ke depan, cuman lagi-lagi semangat itu hilang entah kemana.

Jadi, bukan itu yang mau ane bahas kali ini, yang mau ane bahas kali ini itu adalah “Profesionalisme Hubungan Dosen Mahasiswa di Taiwan”, panjang ya yang mau dibahas. Bisa jadi bukan hanya di Taiwan, tapi juga hampir di semua kawasan Asia Timur, seperti Jepang, Korea, China Daratan, Hongkong.

Jadi menurut ane hubungan antara dosen dan mahasiswa di Taiwan ini cukup menarik, dengan tentu saja membandingkan hubungan dosen-mahasiswa di Indonesia, serta beberapa cerita serta informasi dari teman-teman yang sedang belajar di kawasan Eropa maupun di kawasan Amerika.

Sekilas ane kasih tau nih, kayak apa sih hubungan dosen-mahasiswa di Taiwan. IMHO (Baru tau kependekan dari In My Humble Opinion,,,*nguik)

1.    Terarah dan bertanggung jawab

Oke, sebelumnya ane mau nulisin bebas dan bertanggung jawab. Mungkin jargon ini yang sering kita dengar saat kira berada di luar negeri ya? Namun kalo menurut ane, di Taiwan ini sistem pendidikan nggak terlalu bebas-bebas amat kok. Sebagai contoh ya ane sendiri, jadi walaupun kita dituntut untuk bisa menyelesaikan tugas dan/atau target dengan baik, para dosen ini tetap memberikan, kalo yang saya sebut sebagai target mini. Jadi si dosen ini sudah punya tenggat waktu sendiri buat mahasiswanya untuk menyelesaikan tugas besarnya dalam waktu tertentu, dan terus dipantau selama selang waktu tertentu juga.

2.    Peduli dengan memarahi

Percaya atau tidak, hal ini masih sering terjadi.

Sebagai mahasiswa master, sebelumnya ane dah sering ngeliat mahasiswa sarjana ini kena marah, tapi belakangan kok temen-temen ane yang mahasiswa master juga banyak yang kena semprot. Jujur ane nggak paham-paham bener apa yang disampein si Bapak (Adviser ane bapak-bapak), cuman waktu marahin anak didiknya, si bapak pake acara ngelus dada gitu, dengan raut cemberut, dihiasi mata yang memerah. Ditambah lagi, kalimat yang disampaikan sangat berirama, terkadang sangat menghentak, dan kemudian sangat pelan, berhenti. Stop. Kemudian lanjut lagi. Ane aja lebih baik keluar dari tuh ruangan, terlalu sadis aura di ruangan itu.

3.    Kamu untung, saya juga harus untung.

Ini terjadi sama ane gan. Ane ga tau persis apakah juga terjadi sama teman-teman lokal ane. Cuman, setau ane temen-temen Taiwan nih yang dapat beasiswa atau yang nggak dapet juga sama kok. Jadi gini, penelitian di sini (nggak tau pendidikan master di Indonesia ya..) semua biaya penelitian ditanggung oleh pembimbing yang dibantu sama kampus. Jadi, sebelum memutuskan cari pendamping, kita harus pandai-pandai dulu tawar-menawar harga. Kaya, cerita ane.. Ane mesti ganti pembimbing memasuki tahun kedua sekolah ane di Taiwan. SIngkat cerita, dulu waktu memutuskan sama pembimbing yang lama, ada sebagian hasrat terpendam yang tidak sesuai dengan kalbu. Jadi, memutuskan untuk ganti pembimbing, dan mencari pembimbing yang bisa memberikan tema yang sesuai dengan hati nurani.. (mantep ya… ^^). Jadi, intinya dengan mendapat bantuan dari si dosen ini, tentu saja si dosen juga butuh menerbitkan paper, atau poster, atau apapun itulah yang dia butuhkan untuk meningkatkan gradenya. Supaya jadi prosesor penuh dengan gaji yang sangat tinggi. Eh, professor. :p

4.      Waktu sekolah; sekolah. Waktu bermain; bermain.

Hmm, ini yang jelas sangat berbeda jauh dengan di Indonesia. Jadi gini, pernah suatu saat ane diajak ke acara ulang tahun Pembantu Profesor ane, (ya dia juga udah Doktor gitu, cuman masih mbantuin professor ane), nah disana kami merayakan ulang tahun, seperti sesama teman sendiri. Ada yang menyanyi, bahkan ada yang sambil mendorong si Bapak Huang nih… (Namanya si bapak). Tapi, jangan tanya kalau sudah urusan sekolah dan berada di waktu sekolah. Semuanya bisa berbalik 180o, kita harus patuh dan mengiyakan apa yang disampaikan, bahkan terkadang untuk memberikan saran dan masukan pun terasa “sedikit” susah.

Udah semua belum ya? Tapi yang jelas, dah mulai banyak nyamuk menusuk tangan ane. Yang jelas, itu garis besar yang ane rasain selama kurang lebih 1,5 tahun di Taiwan. Analisis ane tentang gaya pendidikan di Taiwan (mungkin juga untuk kawasan Asia Timur), adalah karena kebanyakan pengajar yang berada di kawasan Jepang, Taiwan, Hongkong, dan Korea kebanyakan adalah lulusan pendidikan barat. Seperti misalnya dari Inggris, Australia terutama Amerika. Kemudian gaya pendidikan yang mereka dapatkan selama menimba ilmu di Negara-negara tersebut sedikit banyak mempengaruhi gaya mereka dalam mengajar. Namun, masih ada beberapa “sifat asli Asia” yang bertahan di dalam diri mereka. Itulah kenapa ane menuliskan “terarah” bukan “bebas”.

NB: Di Taiwan, kalo ada acara apapun, makan-makan, jalan-jalan dengan embel-embel apapun, pastikan dulu,, siapa yang harus bayar, soalnya,, pas ulang tahun bapak huang nih, mereka bilangnya ngerayain ulang tahun bapak huang. Cuman, ujung-ujungnya bayar sendiri juga. Jadi penting tuh nanyain dulu.

Jadi, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina, karena menurut Cina daratan, Taiwan masih termasuk bagian China.  Hmm,,,saya cabut deh,,karena belum yakin masalah frase tersebut, apakah hadith, atau malah bid’ah. Wallahualam. Namun berdasarkan Al-Qur’an

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(Q.S al-Mujaadilah: 11)

“Sebenarnya, Al’Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada oang-orang yang diberi ilmu” (Al-Ankabut: 49)

Advertisements
Categories: (INA), Taiwan (台灣) | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: