Idul Fitri 1433 H.

Eid-ul-Fitr, “Eid-ul-fitr”, Eid al-FitrId-ul-Fitr, or Id al-Fitr (Arabic: ‎عيد الفطر‘Īdu l-Fiṭr), often abbreviated to Eid, is a Muslim holiday that marks the end of Ramadhan, the Islamic holy month of fasting (sawm). Eid is an Arabic word meaning “festivity”, while Fiṭr means “breaking the fast”. The holiday celebrates the conclusion of the 29 or 30 days of dawn-to-sunset fasting during the entire month of Ramadan. The first day of Eid, therefore, falls on the first day of the month Shawwal. This is a day where Muslims around the world try to show a common goal of unity.

~paragraph pertama saat mengunjungi Wikipedia dengan kata kunci eid fitr~

Sebentar lagi, seluruh ummat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1433 H. (CMIIW =D). Kurang lebihnya 4 hari, jika artikel saya ini publish di hari yang sama. Idul Fitri adalah hari yang sangat ditunggu oleh Ummat Islam. Kenapa demikian? Tanyalah kepada mereka yang bekerja merantau di kota? Atau tanyalah kepada saudagar kaya di desa tercinta? Atau mungkin tanyalah kepada Penyiar Radio di Tunisia, Amerika, India, atau Papua.. (biar rima-nya cocok). Jawabannya bisa bermacam-macam, namun menurut saya secara umum adalah sama; Mereka rindu untuk berkumpul dengan keluarga, berkumpul di rumah.

(Namun, terlepas dari perasaan rindu, kangen dan lain sebagainya. Kita wajib memahami bahwa Idul Fitri adalah Ibadah. Idul Fitri adalah Ibadah yang dilakukan karena Allah Swt, karena kita telah berhasil melaksanakan perintah-Nya dalam melaksanakan Puasa 1 bulan penuh, Insha Allah)

Ya, memang itu yang dirasakan oleh penulis saat ini dan beberapa semester belakangan. Karena memang jauh dari keluarga dan merantau bak pemuda Minang. Sulit dipungkiri memang, rasa rindu untuk kembali ke rumah, untuk bertemu dengan keluarga, saudara handai taulan, sahabat. Terkadang terlintas juga di alam pikiran kita, “Lhah disini kita juga ketemu temen baru, sahabat baru. Ada keluarga baru juga. Namun, tetap saja ada sesuatu yang yang beda yang terkadang tidak bisa kita definisikan dengan mudah, kenapa kita bisa rindu sekali untuk “pulang”.

Entah kenapa saya jadi tidak fokus menulis artikel ini. Mungkin karena memang terlalu rindu sehingga mengaburkan konsentrasi saya. Namun, sebenernya di artikel ini saya ingin menyampaikan beberapa budaya di Indonesia yang sering dilakukan selama hari Raya Idul Fitri. Sekadar berbagi cerita apa yang biasanya saya lakukan selama 2-3 hari awal bulan Syawal; Idul Fitri –Red-

1.       Kumpul, Sholat Jama’ah, Bersalaman.

Mengenai pelaksanaan Ibadah Sholat Sunnah 2 raka’at idul Fitri. Bahwa kita diperintahkan berkumpul, dan sholat berjama’ah, dengan syarat dan tuntunan yang telah jelas diperintahkan. Masalah bersalaman ini yang perlu di perhatikan. Pasalnya, jika kita meyakini bahwa perintah untuk bersalaman hanya dilakukan atau diutamakan pada saat hari raya tersebut, sepengetahuan saya itu tidak ada tuntunannya. Yang perlu diperhatikan adalah, untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, kemudian mengucapkan salam saat bertemu saudara muslim yang lain, adalah diutamakan setiap saat. Setiap kali kita melakukan kesalahan. Bukan hanya diwaktu Idul Fitri. Jadi jangan sampai kita terjerumus bahwa melakukan salam-salaman setelah sholat Idul Fitri adalah kewajiban dan ada tuntunannya. Menurut saya, selama kita mengamalkan hal tersebut sebagai muamalah Insha Allah tidak ada dalil yang menyebutnya bid’ah atau mengharamkan. Wallahu’alam.

2.       Makan sarapan seperti biasanya (bukan sahur)

Nah, ini yang mantab. Hmm, karena sudah kebiasaan selama satu bulan makan pas dini hari dan matahari belum terbit. Kita bisa kembali menikmati makan di waktu matahari terbit, Lambung biasanya harus beradaptasi cukup kuat dengan hal ini. Biasanya di rumah, Ibu membeli ketupat kemudian memasakkan sambal tempe atau opor. Alhamdulillah. Dan Sarapan di hari Idul Fitri sebelum melaksanakan sholat adalah sunnah, dan hal ini di contohkan oleh Rasulallah swt. FYI, saat hari raya Idul Adha, Nabi Allah mencontohkan untuk tidak memakan sarapan, hingga selesai sholat Idul adha supaya bisa memakan daging korban sembelihan.

3.       Makan: yang ini wajib, ^^ ke tempat Alm. Eyang dulu.

 Lain lagi dengan yang ini. Setelah tadi sunnah untuk makan sebelum sholat Idul Fitri. Kegiatan makan yang ini dilakukan makanan yang sudah disiapkan di Rumah Alm. Eyang bisa habis dan tidak mubazir. ^^. Selama kita tidak berlebihan, Insha Allah diridhoi. Namun, karena Eyang sudah lama wafat, kami tidak bisa berkumpul lagi di rumah tua nan syahdu itu. Sekarang biasanya beberapa om dan tante saya datang mengunjungi rumah Ibu, karena beliau adalah anak tertua. Namun itupun sering dilakukan setelah 1 Syawal, karena mereka mengunjungi keluarga Ipar dahulu yang masih sehat Kakek-Neneknya.

4.       Makan: yang ini sunnah mu’akad. Yang dianjurkan dengan sangat. Makan saat mengunjungi keluarga dengan berkeliling.

 Lagi-lagi,, jangan sampai kekenyangan ya,, Sunnah Rasul “makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”. Namun, sering pula kita lalai sebagai manusia. Jadi saran saya, pilih makanan yang banyak, namun sedikit kuantitasnya. Jadi kita bisa tetap menghargai mereka yang sudah capek memasak.

Itu tadi beberapa dari kegiatan saya selama Idul Fitri.  Selanjutnya, saya juga ingin berbagi tentang beberapa hal yang dianggap lazim, sebenarnya mungkin tidak (belum) pernah diajarkan oleh Rasulallah SAW. Budaya yang berkembang karena kebiasaan atau mungkin Bid’ah (wallahu’alam). Konteks saya disini hanya sekadar membagi informasi dari mini riset yang saya lakukan. Stay tune then..

1.       Mudik berjama’ah.

Untuk perkara yang satu ini wajib dilakukan bagi mereka yang jauh dan ingin ketemu dengan keluarga. Maksud saya, bagaimana bisa bertemu dengan keluarga jika raga tidak di tempat yang sama. Masalah kewajiban untuk pulang atau tidak, itu tergantung situasi, kondisi dan permintaan ibunda tercinta. Karena biasanya, keinginan mencium tangan ibunda tercinta bisa memberikan kekuatan besar dan motivasi untuk mudik. ^^

Yang jadi permasalahan sekarang adalah, mudiknya sendiri. Kita harus mengerti maksud dan tujuan kita melakukan mudik. Keliatannya sepele, tapi mengerti dan memahami di sini sebenarnya jauh lebih dalam lagi. Seperti misalnya, waktu memilih mudik. Seandainya masih diberikan kekuatan jasmani dan akal sehat, umumnya mudik dilakukan sebelum 1 Syawal. Dilakukan dengan pengharapan bisa melakukan sholat Idul Fitri berjama’ah dengan keluarga besar, dan berkumpul dengan keluarga. Masalahnya adalah?

Masalahnya adalah, berapa banyak dari kita yang mudik di bulan Ramadhan ini dan bahkan hingga membatalkan puasa karena alasan mudik? Kita harus jeli belajar dan memahami asal usul, kekuatan fiqh serta prioritasnya. Everyone has their own priority right?

Memang bagus niatan untuk pulang, namun jika karena alasan yang *sunnah dibandingkan kewajiban kita untuk berpuasa, apakah hal itu bisa dijadikan pembenaran? Menurut hemat penulis, jika kita melakukan mudik dan masih bisa melakukan ibadah sunnah, seperti Sholat Tarawih, Witir atau mengaji itu lebih baik. Namun jika lalai dikerjakan, ya Insha Allah tidak berdosa. Namun ingat, kewajiban kita di Bulan Ramadhan adalah Puasa, maka jalankanlah puasa itu.

2.       Baju baru, Alhamdulillah. Tuk dipakai di Hari Raya

“Apa iya kalau lebaran (Idul Fitri-Red), harus baju baru?”

Simak yang berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Belilah pakaian ini, engkau berhias dengannya dihari raya dan disaat para utusan datang mengunjungimu.”(HR.Bukhari: 925). Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar -Radhiallahu Anhu- bahwa Beliau memakai pakaiannya yang paling bagus pada dua hari raya.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dan Al-Baihaqi, Ibnu Hajar mensahihkan sanadnya dalam fathul Bari: 2/519)

Yang disampaikan dari hadits ini adalah, bahwa kita harus bersih dan indah saat akan melaksanakan Sholat Ied. Bersih, itu wajib saat kita akan melaksanakan sholat. Nah, kalau indah? Karena memang Sholat Ied dihadiri oleh ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu manusia maka sepantasnya kita mengenakan baju dan sandangan yang indah. Seandainya ada rezeki untuk membeli pakaian baru, akan lebih baik. Namun jika tidak ada, seperti yang diteladankan oleh Rasul Allah, Beliau mengenakan pakaian terbaiknya saat hari Raya Idul Fitri ini. Jadi memang benar, saat punya baju baru sudah sepatutnya mengucapkan syukur Alhamdulillah.

 3.       Halal bi Halal.

Ilmu bahasa Arab saya yang pas-pas an Alhamdulillah bisa mengerti arti kalimat ini, Halal dan halal. Menurut saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan tradisi silaturrahim saat hari Raya Idul Fitri.

Sedikit melakukan riset di google, saya menemukan website yang bagus untuk memberikan keterangan mengenai hal ini. Silakan kunjungi di sini.

Tadinya saya hanya ingin membahas mengenai nama saja, ternyata lebih lengkap dijelaskan di dalamnya. Jadi silakan berkunjung, dan dicermati dengan baik, Insha Allah bermanfaat.  Bahasan yang menarik dan lengkap tersebut mengetuk saya, bahwa kita HARUS BENAR-BENAR PAHAM DAN MENGERTI batasan antara beribadah dan muamalah, asal usul kejadian dan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah, maupun yang tidak dilaksanakan oleh Rasul.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.

“Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– sudah ada jika itu maslahat (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.” Waallahu’alam.

4.       “Minal aidin wal faizin”

Ungkapan yang ini paling sering digunakan saat bersalaman dan saling meminta maaf.  Saya berikan sedikit saran, saat ada orang lain mengucapkan “minal aidzin wal faidzin” silakan anda menjawab, bisa dengan sedikit mengeraskan suara. “Insha Allah, amin”. Pasti mereka akan bertanya. Ya, pertanyaan yang menggiring saya untuk melakukan riset lebih dalam lagi. Sekali lagi mengingatkan ini bukan amalan ibadah karena tidak ada dalilnya, tapi muamalah. Ok?

Jadi seperti ini penjelasannya:

 “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).”

“Minal aidin wal faizin (dari orang yang kembali dan menang)”

Kedua kalimat di atas berkembang dari tradisi dan sama sekali tidak pernah di contohkan oleh Rasulallah SAW. Namun, karena kebiasaan (‘urf) hal ini jadi berkembang luas.

Riwayat Rasulallah SAW, beliau menjawab: “ Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya adalah semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.”

Al-Baihaqi dalam kitabnya “As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab:  “Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari ‘Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.” Sedikit bahkan nyaris tidak ada sanad ke arah sana, satu diantaranya di dalam kitab tersebut Al-Baihaqi menerangkan:

عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Bahasan mengenai perkara ini bisa pembaca semua baca lebih dalam di sini.

Kesimpulan yang saya terima adalah bahwa, Rasulallah SAW, tidak mendahului mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka”, namun saat beliau disapa seperti itu, beliau tidak menyalahkan dan lantas menjawabnya. Lebih lanjut lagi, ucapan ini sering dilakukan oleh para shahabah dan tabi’in setelah hari raya Idul Fitri.

Mengutip dari situs tersebut: “Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya (dalam Islam) dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.

Dan sebaik-baik tingkah laku manusia adalah tingkah laku yang dicontohkan oleh Rasulallah, Muhammad SAW. Wallahualam bishowab.

Advertisements
Categories: (INA), Islam (الإسلام) | Tags: , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Idul Fitri 1433 H.

  1. Tulisannya bagus, memperjelas hakikat Ramadhan dan pernak-perniknya di Indonesia. Semoga kita senantiasa mengutamakan yang substantif dalam Ramadhan, yaitu predikat taqwa (ada ciri2nya di Ali Imran : 133-136 ^^). Keep posting bro!

  2. alissandro

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (133)

    [yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (134)

    Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [1], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (135)

    Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (136)

    Tarimong Kinasih bro,, saling mengingatkan yaa,,,walaupun jauh terpisah… *LikeThis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: