Jangan Duduk.

Dan akhirnya jatuh tersungkur ke lantai. Itulah sepenggal kejadian nyata yang baru saja terjadi kepada saya. Kejadian bermula saat saya sedang berada di dapur kampus, dan sedang menunggu menggoreng bahan makanan. Karena merasa sedikit capek setelah berdiri terlalu lama, akhirnya memutuskan untuk mencari kursi sebagai tempat singgah sementara. Dan di pojok ruangan akhirnya menemukan sekumpulan kursi. Dari sekumpulan kursi tersebut, Nampak beberapa kursi rusak, beberapa malah sudah lumayan parah. Dan salah satu dari kursi tersebut masih layak pakai, dan tinggi. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambill kursi itu, walaupun dudukannya sudah copot.

Kursi Rusak

Kursi yang men’jatuh”kan saya

Jadilah saya menduduki kursi luar biasa tersebut. Duduk sebentar, goyang-goyang, sembari menikmati cemilan makan malam, dan saat lalai karena sedan merasakan nikmatnya cemilan itu sayapun jatuh tersungkur. Teman saya yang berada di ruangan sebelah langsung berlari menghampiri saya dan memberitahu saya untuk lebih berhati-hati. Lalai, itulah sebenarnya yang terjadi.

Dari awal memang saya sudah tau bahwa kursi tersebut rusak, bahkan dengan bergoreskan Hanzi China yang kata teman saya berbunyi “Don’t seat” saya tetap nekat duduk. Saya tidak tau arti tulisan itu, maupun cara bacanya, namun secara jelas terlihat kursi tersebut memang sudah rusak.

Saya lalai, saya terlalu meremehkan. Kun fa yakun, semua yang terjadi maka terjadilah. Allah swt dengan jelas memberitahu kita mengenai hal itu, namun jarang dari kita yang memahami makna di balik kalimat tersebut. Sering kali kita lalai dan meremehkan hal kecil, seperti sering menunda untuk belajar bagi mahasiswa, menunda untuk membantu Ibu yang meminta kita untuk mengantar beliau pengajian di masjid, atau misalnya kita lalai untuk memberikan makan kucing peliharaan kita.

Benar adanya beribadahlah seolah-olah kita mati esok hari, dan uruslah urusan dunia seolah-olah kita hidup selamanya. Islam dengan indah sudah mengajarkan hal tersebut. Bagaimana kita harus memiliki keseimbangan dunia dan akherat. Bagaimana kita harus bisa memiliki kehandalan memilih prioritas yang baik.

Karena sepandai-pandainya manusia berencana dan berusaha, Alloh lah yang menentukan hasilnya. Untuk itu, kita diajarkan untuk selalu melakukan do’a dan pengharapan kepada Sang Khalik, Maha Mencipta. Terkadang kita berencana untuk mendapatkan hasil maksimal, ternyata diberikan kurang. Terkadang kita berencana biasa saja, Alhamdulillah diberikan yang istimewa. Wallahualam. Kita tidak pernah bisa mengetahui seluruh Ilmu yang dimiliki Allah swt, tapi kita bisa belajar sedikit demi sedikit ilmu dari-Nya. Kita bisa belajar untuk menghargai dan menikmati kejatuhan, kekurangan, musibah yang kita terima. Kita juga harus belajar bersedih dan mengkhawatirkan atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Yang jelas, menurut saya, bukan hanya bagaimana kita bisa terjatuh, atau bagaimana kita bisa menang, namun bagaimana kita bisa menghayati dan memaknai itu semua dan berbuat lebih baik lagi. Karena setelah terjatuh dari kursi tersebut saya lantas segera berdiri, dan tersenyum kepada kawan saya seraya mengatakan “I am fine, it’s my fault”.

Wassalamualaykum

Ahad 19 Agustus 2012|1 Shawwal 1433 H.

[A]

Advertisements
Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: