Unproductive Consistency.

Setelah kemarin beberapa hari ini mengunjungi Masjid Taichung untuk mengikuti pelatihan Guo Nien (lebih tepatnya mengisi libur tahun baru Cina dengan berkegiatan di Masjid), saya kembali menyadari bahwa kemampuan saya menuangkan ide, bercerita, menganalisis, memberikan sudut pandang, memberikan jawaban bahkan bertanya melalui media tulisan masih sangat rendah. Salah satu kawan saya memiliki ide yang menarik dengan menjadi wartawan di salah satu media cetak terkenal di Taiwan, atau misalnya kawan saya yang lain di Korea Selatan yang memutuskan untuk menjadi penulis di salah satu website yang cukup booming, “theposkamling”. Yang jelas memang semua orang memiliki trik dan cara masing-masing untuk tetap menumbuhkan semangat dan kesukaan pada hal yang mereka sukai. Tapi, menulis?

Entah kenapa menulis bagi saya belum menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan, belum menjadi salah satu media yang comforting untuk “menelanjangi” diri saya sendiri di muka umum, well, I tried it, for that matter… 

Pada acara Imlek kali ini ada kawan-kawan di Masjid memutuskan untuk mengadakan acara pelatihan dan seminar kewirausahaan. Tema kewirausahaan dianggap mampu menarik minat kawan-kawan BMI dalam melanjutkan aktivitas nanti sekembalinya ke tanah air. Bekal kewirausahaan juga dianggap bisa memberikan pandangan dan peluang untuk mendayagunakan uang yang diperoleh setelah bertahun-tahun kerja di Taiwan. Tema kewirausahaan yang diangkat meliputi budidaya ikan lele, kesehatan, tulis-menulis, ilmu komputer serta makanan dan minuman. Alhamdulillah saya telah selesai mengisi, pada tema budidaya ikan lele. 

Tepat kemarin salah satu rekan yang mengisi bisnis tulis menulis memberikan pandangan baru tentang tulis menulis. well, yang  jelas saya merasa masih sangat minim kemampuan dalam melakukan itu. Entah dalam hal gaya tulisan, kemampuan menuangkan ide secara terstruktur, tema yang kurang menarik, et cetera. 

Kedisiplinan. Ya, kedisiplinan adalah kelemahan penulis. Kurang disiplin, dan tidak konsisten. Marah sekali rasanya karena masih memiliki sifat dan sikap seperti itu. Teringat semasa saya masih duduk di bangku sekolah dasar, Ibunda sering membelikan ensiklopedi, buku-buku pengetahuan umum, pengetahuan alam, kamus dan lain sebagainya. Karena masa kecil adalah masa ingin tahu, jelas saja saya sering kali menghabiskan waktu melahap bacaan-bacaan tersebut. Menginjak sekolah menengah pertama, keingintahuan saya berubah, menjadi penikmat komik. Komik jepang. Uang bulanan yang diberikan ibunda untuk membeli buku atau bacaan saya gunakan untuk membeli komik. What a fool, I guess… :p

Yak 20 menit sudah saya mulai menulis lagi, dengan judul dan tema serta tulisan yang kurang lebih nggak ada sangkut pautnya sama sekali mungkin. Tapi apa mau dikata, setidaknya saya sudah mulai menulis lagi bukan?

Advertisements
Categories: (INA), Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: