Diary

Wudhu dan Bersin.

Mungkin banyak juga diantara kita yang mengalami hal yang terjadi pada saya saat berwudhu. Yak, bersin. Silakan dicoba, seperti yang telah disunahkan Rasulallah, berwudhu dengan meng”hirup” perlahan air dari tangan kanan, kemudian mengeluarkannya dengan tangan kiri. Insya Allah akan terasa sangat perih hidung, dan tenggorokan. Wallahu’alam. Kita diperintahkan, maka kita melakukan. Seperti kata sayidinnah Ali bin Abi Thalib, jika memang hanya menggunakan logika, maka seharusnya yang dicuci hanya telapak kaki saja,,tidak perlu mata kaki.

Kemudian saya bertanya.

Boleh jadi sayidinna Ali mengatakan hal itu pada jaman dahulu, dimana belum banyak sepatu (atau mungkin bahkan sepatu bot) yang ada di jaman itu. Mungkin kebanyakan berupa sandal, oleh karena itu sayidinna Ali berkata semacam itu. Entahlah. Namun jaman sekarang kita sering sekali menggunakan sepatu, saat bersekolah, bekerja atau hanya karena lebih nyaman menggunakan sepatu.

Dan sekarang berbeda.

Ya, berbeda dari segi jamannya. Namun ajarannya sepanjang masa. Itulah yang saya yakini, dengan banyaknya perubahan yang ada didunia ini, yakinlah pasti ada yang tidak berubah.

One thing for sure will stay the same. It is faith!

Dan yang saya alami juga setelah menghirup air wudhu ini adalah membaca غ dengan lebih jelas. Anda juga mengalaminya?

 

Wallahualam

Kamis 23 Agustus 2012|5 Shawwal 1433 H.

[A]

Advertisements
Categories: (INA), Diary | Tags: , , , | Leave a comment

Malas.

Saya sedang malas menulis. Bahkan saya melantukan indah tulisan kata-perkata di Microsoft word satu layar dan diganggu konsentrasi di layar sebelah. Saya yang menganggu, diri sendiri. Namun berbekal tekad menjadi penulis, bahkan mungkin memiliki buku suatu saat nanti, saya harus menjadi malas tapi tetap mengeluarkan karya tulisan. Sebatas mendisiplinkan diri sendiri. Harapan tinggi untuk bisa mendisiplinkan diri disemua hal yang diwajibkan oleh-Nya. Disiplin diri sendiri. Memberi contoh, mendisiplinkan orang lain, keluarga sendiri, calon keluarga…Amiin ^^.

Disiplin adalah kata yang sangat susah untuk dilakukan, JIKA hal-hal tersebut tidak dibiasakan sedari kita kecil di lingkungan keluarga kita sendiri. Ya, keluarga, adalah tempat kita belajar untuk pertama kali. Berapa banyak orang  yang masih ingat belajar kata, Mama, Mama, Mama, Papa? Begitu disiplin orang tua kita untuk mendidik kita tumbuh besar menjadi keluarga muslim yang baik, saling menghargai mencintai dengan wajar kepada Ibu, Ibu, Ibu, Bapak, Kakak, Adik dan semua saudara kita. Apakah pantas kita menjadi malas?

Rasulallah SAW, adalah panutan dan tauladan kita. Manusia sempurna yang sudah dipastikan Jannah di hari kemudian. Manusia utama yang hatinya senantiasa dibersihkan oleh malaikat yang turun langsung ke bumi. Beliau senantiasa memberi tauladan, bagaimana beliau mencontohkan untuk selalu sabar dan tawakkal saat kaum Quraish melempari dengan kotoran binatang, saat mereka menimpakan isi perut unta tatkala beliau Ruku’ dalam Sholatnya, atau bahkan saat beliau melaksanakan sholat malam hingga kaki beliau menjadi bengkak dan mencontohkan pada istri beliau, A’isah r.a. untuk bangun malam dan mengingat Allah swt dengan Qiyammul Lail adalah memiliki keutamaan yang tinggi.

Ah malas rasanya…. Mungkin, mungkin, jika kita bisa mengganti kata malas, kemudian menumbuhkan pengertian kepada anak-anak kita bahwa ‘malas’ itu adalah kata kerja untuk disiplin yang wajar, dan ‘rajin’ itu adalah kata kerja untuk tingkah laku disiplin yang luar biasa. Mungkin Allah Ta’ala memberikan kekuatan lebih bagi kita dan bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi Negara besar di dunia, Negara dengan muslim TERBANYAK DI DUNIA.

Semisal jika saat masuk sholat Shubuh adalah pukul 04:00 dini hari dan kewajiban yang ‘biasa’ untuk bangun jam 4 pagi itu bukanlah hal ‘disiplin’ tapi sudah dimaknai ‘malas’. Malas bukan lagi kata saat kita melaksanakan sholat Shubuh ketika matahari sudah menampakkan garis warnanya. Atau bahkan saat bintang itu sudah memerah menyapu embun-embun pagi, menggantinya dengan kehangatan. Itu adalah tindakan tercela. Astaghfirullah hal adzim.

Tidak ada lagi kata malas dengan lalai sholat shubuh tepat waktu. Itu sudah tercela. Kita dan anak-anak,  sekeluarga kita mengimani itu. ‘Malas’ adalah ketika bangun jam 4 pagi tepat kemudian mengambil wudhu dan sholat. Dan ‘rajin’ adalah bangun 10-20 menit lebih awal dari waktu adzan shubuh dan melaksanakan sholat Qobli Shubuh. Bukan lagi malas, tepat waktu, dan rajin namun diganti tercela, malas, dan rajin dengan kisaran waktu yang sama. Yaaaa, walapun tercela adalah kata sifat namun apa mau dikata, hal itu adalah unek-unek liar yang insha Allah memberikan faedah dan kebaikan.

Di masyarakat yang sekarang ini, bangun untuk sholat shubuh jam 4 sesuai waktu adzan adalah hal yang ‘Rajin’ bukan biasa… Wallahu’alam. Insha Allah tulisan malas saya yang mbulet ini tidak membingungkan.

Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

Selasa 21 Agustus 2012 | 3 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , | Leave a comment

Gundah Gulana(h).

Hari ini cuaca di bumi Formosa Taiwan nampaknya sedikit gelisah. Sejak dini hari yang cerah membuncah, diselimuti awan yang indah. Kemudian tidak terasanya bangun tadi malam setelah memejamkan mata dari pukul 8 sampai sepertiga malam. Hingga terbit matahari. Lalu saat sepenggalah naiknya si Matahari, bintang paling dekat dengan bumi, rasa-rasanya hanya sedikit yang bisa istiqomah untuk bangun, menyucikan diri, meluruhkan dosa dengan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan Shalah Dhuha.

Masih resah dengan cuacanya, kemudian cuaca berganti tertutup awan, bukan mendung, tapi putih. Suasana mendadak syahdu merdu sendu. Bagaikan Qolbu yang sering dibalik-balik dengan mudahnya oleh, keadaan. Yang menyebabkan ‘keteguhan hati’ bukanlah frasa yang main-main.

Mulai berputar putar, karena saya sendiri sedang dihadapkan pada deadline, tenggat waktu kalau kata orang Melayu, mungkin Indonesia juga.

Sudah semenjak pagi berkutat di Laboratorium dan bersikeras mengejar tenggat waktu, yang saya persulit sendiri. Kebiasaan menunda adalah musuh terbesar di dalam diri saya. Mungkin bagi pembaca sekalian. Detik berganti menit, kemudian menjadi satuan jam. Sudah sore, dan sekarang cuaca Bumi Formosa berubah drastis. Hujan dan angin kencang. Mungkin taifun? Mungkin juga tidak? Hmm,,tapi badan ini harus kembali ke kamar, ingin mendapatkan makanan hati dengan berjumpa dengan Sang Pencipta, Allah swt. Makanan dan nutrisi hati yang bisa kita dapatkan kapan saja. Berbeda dengan puasa, kita bisa sholat kapan saja untuk mengingat Sang Khaliq. Datang ke Masjid selepas Ashr, tunaikan Tahhiyatu Masjid. Sebelum memasuki Dhuhur, bisa sholat Qobliyah Dhuhur 2 raka’at, syukur-syukur sebelumnya sholat Dhuha.

Ya rabb, sudah masuk hari kedua bulan Syawal. Memasuki hari hari dimana kita manusia tidak bisa lagi keluar rumah dengan restoran-restoran atau warung makan yang tertutup kelambu seperti di Indonesia yang menyiratkan ‘kami menghargai yang sedang berpuasa’. Dimana manusia tidak bisa lagi berombongan dengan saudara muslim lainnya untuk menegakkan ibadah puasa bersama-sama, mungkin. Waktu-waktu yang saya sering artikan sebagai waktu-waktu pembuktian cinta dan penghambaan yang sebenarnya kepada-Mu, Ya Rabb. Waktu-waktu dimana kita harusnya lebih merendahkan diri beribadah lebih khusyuk kepada Tuhan Semesta Alam. .

‘Setiap amalan ibadah dari anak cucu Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa, yang adalah untuk-Ku. Dan Akulah sendiri yang akan memberikan balasannya’

 (Hadits Qudsi).

Rasulallah, Muhammad SAW bersabda “Adalah separoh sabar, dan sabar itu adalah setengah Iman. Ia merupakan pintunya Ibadah, yang dengannya akan diperoleh dua kesenangan; yakni saat berbuka puasa dan kala berjumpa dengan Rabb kelak”.

Ya Allah, saya sudah merindukan Ramadhan yang baru saja berlalu.

Jangan salahkan hati yang sering dibolak-balik, kemudian disamakan pula dengan keimanan kita yang bisa naik turun. Alloh menyukai ibadah yang kecil sederhana namun kontinyu, perpetually. Ba’da Ramadhan ini adalah ujian sesungguhnya menurut saya. Ujian dari sebulan penuh pelatihan bagi ruh dan raga kita. Dan benarlah yang disebutkan, keimanan dan ketakwaan itu adalah urusan manusia dengan Rabb. Urusan yang tidak main-main.

Bagaikan cuaca Bumi Formosa yang sedang gundah gulana(h). Tulisan amburadul ini adalah sedikit kesetiakawanan dengannya. Dan Waktu Maghrib yang sudah berlalu selang beberapa menit yang lalu. Dan ruh yang selalu lapar.

Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

Senin 20 Agustus 2012|2 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , | 2 Comments

Hai Jiwa yang Tenang.

Yaa,,ayyaatuhannafsul muthma’innah.

Hari yang membuat badan sedikit lelah dan konsentrasi secuil berkurang. Layaknya cuilan kue kering tergigit oleh gigi-gigi yang mendamba kenikmatan. Namun, bahagia teramat sangat menyelimuti ubun-ubun saya, karena bisa melaksanakan sholat Idul Fitri 1433 H di Masjid Taichung. Bertemu saudara-saudara seiman, kawan-kawan, bahkan berkunjung ke rumah sahabat yang sudah berkeluarga di sini. Tentu saja tak lupa santapan khas Idul Fitri, rendang dan opor ayam. Alhamdulillah.

Setelah hampir seharian beramah tamah ditemani dengan rintik hujan di teras rumah. Terkadang deras terkadang menggerimis. Membuat suasana syahdu tenang,  menghanyutkan. Merasakan kebahagiaan dan ketenangan di hari raya ini.

Yaa,,ayyaatuhannafsul muthma’innah.. Hai jiwa yang tenang.

Disebutkan di dalam Al-qur’an di dalam surat Al-Fajr:27. Hai jiwa yang tenang. Setenang hari ini. Setenang rintik hujan yang rajin turun ke bumi untuk terus menyokong kehidupan. Menjadi hidup, menjadi tenang. Hari yang diharamkan untuk berpuasa, hari dimana kita diperintahkan untuk bergembira setelah selesai melaksanakan puasa wajib 1 bulan penuh. Hari dimana jiwa kembali tenang. Benarkah demikian?

Benarkah jiwa yang tenang hanya ada di hari raya idul fitri? Hai jiwa yang tenang, Insha Allah Ta’ala. Jawabannya ada pada diri kita sendiri, berada di jalan Islam untuk mencari jawaban dengan ridho-Nya. Amin.

Wallahu’alam bi Showwab.

Senin 20 Agustus 2012|2 Shawwal 1433 H.

[A]

 

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Jangan Duduk.

Dan akhirnya jatuh tersungkur ke lantai. Itulah sepenggal kejadian nyata yang baru saja terjadi kepada saya. Kejadian bermula saat saya sedang berada di dapur kampus, dan sedang menunggu menggoreng bahan makanan. Karena merasa sedikit capek setelah berdiri terlalu lama, akhirnya memutuskan untuk mencari kursi sebagai tempat singgah sementara. Dan di pojok ruangan akhirnya menemukan sekumpulan kursi. Dari sekumpulan kursi tersebut, Nampak beberapa kursi rusak, beberapa malah sudah lumayan parah. Dan salah satu dari kursi tersebut masih layak pakai, dan tinggi. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambill kursi itu, walaupun dudukannya sudah copot.

Kursi Rusak

Kursi yang men’jatuh”kan saya

Jadilah saya menduduki kursi luar biasa tersebut. Duduk sebentar, goyang-goyang, sembari menikmati cemilan makan malam, dan saat lalai karena sedan merasakan nikmatnya cemilan itu sayapun jatuh tersungkur. Teman saya yang berada di ruangan sebelah langsung berlari menghampiri saya dan memberitahu saya untuk lebih berhati-hati. Lalai, itulah sebenarnya yang terjadi.

Dari awal memang saya sudah tau bahwa kursi tersebut rusak, bahkan dengan bergoreskan Hanzi China yang kata teman saya berbunyi “Don’t seat” saya tetap nekat duduk. Saya tidak tau arti tulisan itu, maupun cara bacanya, namun secara jelas terlihat kursi tersebut memang sudah rusak.

Saya lalai, saya terlalu meremehkan. Kun fa yakun, semua yang terjadi maka terjadilah. Allah swt dengan jelas memberitahu kita mengenai hal itu, namun jarang dari kita yang memahami makna di balik kalimat tersebut. Sering kali kita lalai dan meremehkan hal kecil, seperti sering menunda untuk belajar bagi mahasiswa, menunda untuk membantu Ibu yang meminta kita untuk mengantar beliau pengajian di masjid, atau misalnya kita lalai untuk memberikan makan kucing peliharaan kita.

Benar adanya beribadahlah seolah-olah kita mati esok hari, dan uruslah urusan dunia seolah-olah kita hidup selamanya. Islam dengan indah sudah mengajarkan hal tersebut. Bagaimana kita harus memiliki keseimbangan dunia dan akherat. Bagaimana kita harus bisa memiliki kehandalan memilih prioritas yang baik.

Karena sepandai-pandainya manusia berencana dan berusaha, Alloh lah yang menentukan hasilnya. Untuk itu, kita diajarkan untuk selalu melakukan do’a dan pengharapan kepada Sang Khalik, Maha Mencipta. Terkadang kita berencana untuk mendapatkan hasil maksimal, ternyata diberikan kurang. Terkadang kita berencana biasa saja, Alhamdulillah diberikan yang istimewa. Wallahualam. Kita tidak pernah bisa mengetahui seluruh Ilmu yang dimiliki Allah swt, tapi kita bisa belajar sedikit demi sedikit ilmu dari-Nya. Kita bisa belajar untuk menghargai dan menikmati kejatuhan, kekurangan, musibah yang kita terima. Kita juga harus belajar bersedih dan mengkhawatirkan atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Yang jelas, menurut saya, bukan hanya bagaimana kita bisa terjatuh, atau bagaimana kita bisa menang, namun bagaimana kita bisa menghayati dan memaknai itu semua dan berbuat lebih baik lagi. Karena setelah terjatuh dari kursi tersebut saya lantas segera berdiri, dan tersenyum kepada kawan saya seraya mengatakan “I am fine, it’s my fault”.

Wassalamualaykum

Ahad 19 Agustus 2012|1 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Azbabun Nuzul.

Setelah beberapa kali mengunjungi blog kawan saya selama satu tahun terakhir di Taiwan ini, saya sendiri terinspirasi untuk membuat blog. Bukan kali pertama, namun sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Dari sudut pandang saya hasilnya tidak terlalu bagus. Berdasar keinginan untuk membukukan dalam media dunia maya, saya menggunakan akun WordPress saya untuk membuat blog yang baru. Alhamdulillah, sudah berjalan. Semoga bisa berjalan terus hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Semoga bisa merekam catatan kehidupan saya, bisa memberikan manfaat bagi saya sendiri khususnya dan juga bagi siapa saja yang membacanya.

Tulisan ini dibuat karena saya bosan sekali menunggu. Jemari saya tergelitik untuk menulis semacam catatan harian. Tentang apa saja. Tentang cinta, tentang hidup, kehidupan, semuanya.

Pagi ini mentari bersinar indah, merekah. Dipeluk birunya langit bersemikan awan. Namun apa daya, mata lelah karena belum sempat memejamkan mata semalam, menjadikan badan lemas di hari terakhir Ramadhan 1433 H ini. Dituntut untuk menyelesaikan publish paper dari Profesor, saya mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan semangat yang kadang timbul kadang tenggelam bak sinyal di ponsel saya.

Stop. Saya sampai di titik ini. Titik dimana harus ada alasan. Selalu ada alasan, terkadang kita yang tidak tahu. Dan sembari menuliskan dari tiga paragraph di atas, saya menemukan alasan untuk menulis “catatan” ini. Bahwa setiap hari kita sudah diberikan nikmat dan anugerah oleh Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. Satu hal yang seharusnya bisa kita lakukan adalah menikmati anugerah itu dengan ihsan dan ikhlas. Lalu mengamalkannya dengan niat ikhlas kepada Allah kepada seluruh makhuknya, manusia dan alam sekitar.

Wassalam

Sabtu 18 Agustus 2012|30 Ramadhan 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.