Islam (الإسلام)

Sahabat Nabi.

dikutip sebagian dari http://khotbahjumat.com/

KHUTBAH PERTAMA


إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

 Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala. Kita bersyukur kepada-Nya dan memohon ampunan dari-Nya. Dengan takdir dan iradah-Nya, siang hari ini kita bisa berkumpul di musholla AU yang mulia ini. Untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan ibadah shalat jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan shalat Jum’at.

Sholawat dan salam, tak lupa kita panjatkan kepada junjungan kita, rasul Allah, Muhammad SAW, yang  karena jasa beliau kita bisa menikmati indahnya berislam dan beriman, serta dikumpulkan dengan sesama saudara Muslim dan muslimah di bumi Formosa ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah tauhid dan agama yang benar. Risalah dan agama yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat universal, artinya ia berlaku untuk seluruh umat manusia di dunia tanpa tersekat oleh tempat dan waktu, dan ini merupakan salah satu ciri khas risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping hal ini telah dinyatakan oleh Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, hal ini juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa tidak ada wilayah di bumi ini, kecuali telah terjangkau oleh Islam, agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dan aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, no. 335)

Meskipun risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat universal, tidak berarti dan tidak harus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang membawa dan menyampaikannya dengan berkeliling dunia dari satu daerah ke daerah lainnya, tanpa beliau berkeliling ke penjuru dunia, Islam telah benar-benar memayungi seluruh wilayah bumi. Hal ini karena Islam memiliki orang-orang yang bersemangat tinggi dalam menyampaikan (risalah) dan berdakwah, dan di barisan terdepan orang-orang tersebut adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka inilah pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan semangat untuk menyampaikan (risalah). Di haji wada’ di hari penyembelihan (hewan kurban), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kembali dorongannya kepada para sahabat untuk menyampaikan (risalah), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ

Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.” (HR. al-Bukhari dari Abu Bakrah, no. 67)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Para sahabat inilah yang menjadi  perantara antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan umat, tanpa perantaraan mereka (dengan izin Allah), umat tidak akan mengetahui ajaran dan tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah jasa besar yang tidak akan tertandingi oleh generasi apa pun dan kapan pun dari umat ini. Seandainya hal tersebut merupakan jasa mereka satu-satunya, maka ia lebih dari cukup untuk dijadikan alasan bagi umat ini untuk menghormati, menghargai, memuliakan, dan mendoakan, “Semoga Allah meridhai mereka,”. Sekaligus menjadi alasan bagi umat ini untuk tidak mencela, mencaci, dan menjelek-jelekkan mereka, sebab sikap ini merupakan bukti tidak adanya rasa berterima kasih kepada mereka dan kejahilan terhadap kebaikan-kebaikan mereka. Tidak sedikit ayat-ayat Alquran di mana di dalam surat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung mereka, salah satunya adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir- sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Di samping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada umat Islam agar menghargai jasa mereka dengan tidak mencela mereka. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka (infaknya tersebut) tidak menandingi satu mud atau setengah mud (infak) salah seorang dari mereka.” (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1755, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1746)

Emas sebesar Uhud dari kita tidak menandingi satu bahkan setengah mud salah seorang dari mereka. Sebuah perbandingan yang boleh dikatakan antara langit dan bumi. Hal itu tidaklah aneh dan bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini dengan kesaksian Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud dan Muslim dari Imran bin Hushain. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1118; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1743)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Benar, para sahabat adalah orang-orang terbaik umat ini, era mereka adalah era emas dan zaman mereka adalah zaman paling gemilang dari umat ini. Pada masa mereka, Islam mencapai puncak kemuliaan dan kehormatan tertinggi yang tidak tertandingi. Cukuplah kesaksian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti yang tidak terbantahkan. Mereka adalah orang-orang hasil polesan tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang menyertai dan mengiringi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyaksikan ayat-ayat diturunkan, mereka menghadiri hadis-hadis disabdakan, keutamaan-keutamaan yang tidak akan pernah diraih oleh seorang pun dari umat ini selain mereka.

Jamaah Jumat yang dimuliakan ALlah.

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi dan rasul terbaik, maka orang-orang yang mendampingi adalah orang-orang terbaik. Masyarakat era sahabat adalah masyarakat terbaik. Masyarakat dengan hukum Allah dan RasulNya yang diterapkan di semua lini. Generasi terbaik dan predikat emas yang diwujudkan oleh para sahabat, tidak mereka wujudkan begitu saja seperti membalik telapak tangan, bukan. Akan tetapi mereka mewujudkannya dengan sebab-sebab dan usaha-usaha yang telah mereka berikan dan buktikan, di mana sebab dan usaha utama dari mereka adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya dengna iman yang sebenar-benarnya.

Karena iman mereka kepada Allah dan Rasul-Nya-lah, maka mereka berpegang kepada Firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Mereka membenarkan berita-berita Allah dan Rasul-Nya, ketika Allah memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arasy, bahwa Dia bersama mereka, bahwa Dia memiliki wajah dan tangan, bahwa Dia memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi’liyah lainnya, maka mereka semua menerima dan beriman. Tidak seorang pun dari mereka yang membantahnya atau membelokkannya atau menafsirkannya dengan akal atau bertanya bagimana atau mengapa. Sikap yang sama mereka tunjukakn pada saat mereka mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah tertawa dan berbahagia, bahwa Allah memiliki kaki, bahwa Allah turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Iman membuat mereka meyakini bahwa berita Allah dan rasul-Nya hanyalah kebenaran yang harus diterima.

Karena iman, mereka menaati Allah dan Rasul-Nya tanpa bantahan dan penundaan, perintah Allah dan Rasul-Nya mereka laksanakan, dan larangan Allah dan RasulNya mereka tinggalkan pada saat itu juga. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Bara bin Azib, pada saat perintah menghadap Ka’bah (telah datang pen.), selesai shalat, laki-laki ini melewati sekelompok orang-orang Anshar yang sedang shalat asar dan dia memberitahu mereka bahwa dia telah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menghadap Ka’bah, maka orang-orang Anshar tersebut berbalik pada saat itu juga sehingga mereka menghadap Ka’bah. (Mukhtashar shahih al-Bukhari, no. 252). Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa di perang Khaibar, para sahabat memasak daging keledai lalu seorang penyeru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian darinya, ia kotor termasuk perbuatan setan.” Anas berkata, “Bejana-bejana yang berisi daging keledai yang sudah mendidih tersebut langsung ditumpahkan.” (Mukhtashar Shalih Muslim, no. 1330).

Iman yang membuat mereka demikian patuh dan taat, mereka meresapi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Mereka menyadari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Seluruh umatku masuk surga kecuali orang yang enggan.” Mereka bertanya, “Ya rasulullah, siapa yang enggan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa menaatiku, maka dia masuk surga dan barangsiapa mendurhakaiku, maak dia telah enggan.” (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no 2117).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita untuk meneladani mereka sehingga kita sanggup menyikapi perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ketaatan.

KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Iman membuat para sahabat bersikap demikian patuh dan taat, berita dari Allah dan Rasul-Nya mereka benarkan, perintah mereka laksanakan, dan larangan mereka tinggalkan tanpa tarik ulur, tanpa menentangnya dengan alasan tidak nalar, tanpa menolaknya dengan alasan tidak berperasaan. Dari sini kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang bersatu di atas kebenaran mereka tidak tersusupi oleh perpecahan meskipun terjadi di akhir era mereka, akan tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menajdi biang keladi perpecahan atau pemimpin firqah-firqah bid’ah dan sesat. Oleh karena itu, jika mereka bersepakat, maka ia merupakan kesepakatan umat sebagaimana para ulama menyatakan bahwa pemahaman mereka wajib dikedepankan dari pemahaman selain mereka, karena mereka adalah orang-orang yang paling tulus, paling bersungguh-sungguh, dan paling ikhlas dalam mencari kebenaran.

Iman membuat mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala perkara, melebihi harta, orang tua, keluarga bahkan diri mereka sendiri. Mereka mengerti benar Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kemu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Mereka memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang dari kalian tidaklah beriman sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari dari Anas, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 15)

Kecintaan mendorong mereka memberikan dan mengorbankan segala apa yang mereka miliki demi membela Allah, rasul, dan agama-Nya. Tidak jarang kita membaca dalam perbincangan mereka, “Aku rela menjadikan bapak dan ibuku sebagai tebusanmu ya Rasulullah.” Tidak sebatas perbincangan, hal itu terealisasikan dan terbuktikan dalam perbuatan nyata. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong bersedekah, maka tidak heran jika di antara mereka yakni Abu Bakar hadir membawa seluruh hartanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi keluarganya. (Abu Dawud, no. 1678; at-Tirmidzi, no. 3684; dan at-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.” ).

Penulis Ar-Rahiq al-Makhtum menyebutkan bahwa demi mempersiapkan pasukan perang Tabuk, Utsman merogoh koceknya sebesar seribu dinar ditambah sembilan ratus unta dan seratus kuda, sehingga Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang memudharatkan Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3100, dia berkata, “Hadits hasan gharib”). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa ketika Firman Allah turun,

لَن تَنَالُواْ ٱلبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ‌ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ۬ (٩٢)

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Abu Thalhah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyerahkan harta yang paling dia cintai yaitu sebuah kebun kurma Bairuha’. Abu Thalhah berkata, “Ia adalah sedekah untuk Allah, aku berharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, letakkanlah ya Rasulullah di bidang yang Allah tunjukkan kepadamu.” (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 700, Mukhtashar Shahih Muslim. No. 529).

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah

Iman membuat mereka tidak sekedar mengorbankan harta, lebih dari itu yaitu jiwa raga. Kita bisa membaca hal itu dari ucapan Al-Miqdad bin Al-Aswad, “Kami tidak berkata seperti kaum Musa, Pergilah kamu dan Tuhanmu, berperanglah.’ Akan tetapi kami berperang di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakangmu.” (Mukhtashar Shahih al_bukharo, no. 1525). Kita bisa melihatnya pada tujuh orang Anshar di perang Uhud, pada saat kaum muslimin tercerai-berai dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam situasi kritis karena musuh yang terus mendesak, bagaimana tujuh orang tersebut gugur syahid satu per satu demi melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1160). Ini hanyalah sedikit dari banyak pengorbanan para sahabat, hal itu bisa dibaca di buku-buku sunah dan sirah.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Mampukah kita menandingi dan menyusul mereka? Tidak bisa, walaupun demikian kita tetap bisa bersama mereka, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” Dengan berpijak kepada hadis ini, Anas berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar, aku berharap bersama mereka dengan cintaku kepada mereka meskipun aku tidak beramal seperti amal mereka.” (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1459).

 

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Categories: (INA), Islam (الإسلام) | Tags: , , | Leave a comment

“Innocence of Muslims”

Mengenal RasulaLlah SAW, Khutbah Jum’at 21 September 2012|Dhul-Qadah 5, 1433 H

KHUTBAH PERTAMA


إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala. Kita bersyukur kepada-Nya dan memohon ampunan dari-Nya. Dengan takdir dan iradah-Nya, siang hari ini kita bisa berkumpul di musholla AU yang mulia ini. Untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan ibadah shalat jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan shalat Jum’at. Mudah-mudahan pertemuan kita di Jum’at kali ini, dapat menghapus dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan dalam satu pekan yang lalu.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 342)

Semoga shalawat dan salam tercurah pula kepada Qudwah hasanah kita, RasuluLlah Muhammad shallaLlahu alayhi wa sallam, juga kepada keluarganya, shahabat-shahabatnya, serta orang-orang yang istiqamah meniti sunnah dan meneruskan risalahnya. Semoga kita termasuk dalam golongan yang istiqamah tersebut, sehingga mendapatkan keutamaan bertemu dengan beliau di telaga al-haudh kelak.Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Jamaah Jum’at rahimakumuLLah

Beberapa pekan yang lalu kita dikejutkan dengan beredarnya film bertajuk “Innocence of Muslims”. Film yang sempat beredar luas di jejaring social Youtube ini menuai banyak kritikan, cemoohan, kemarahan, dan reaksi negatif dari banyak pihak, baik dari kaum muslimin bahkan dari mereka yang tidak beragama Islam. Bagi kita umat Muslim, jelas ini adalah penghinaan, dan pelecehen terhadap agama dan keyakinan kita, hak hidup dasar setiap manusia, namun bagaimana bagi mereka yang bahkan bukan seorang muslim?

Beberapa mereka mengatakan bahwa, “secara sinematografi film ini sekelas film murahan dan tidak layak untuk diperbincangkan”, beberapa mengatakan tidak ada dasar apapun untuk membuat film ini, secara sejarah. Bahkan untuk kategori film komedi pun, film ini tidak lucu”. Inilah beberapa pendapat yang beredar.

Sebenarnya apa itu Innocence of Muslims?

Berjudul asli Dessert Warrior atau Dessert Storm, difilmkan tahun 2011 dengan tema pertempuran suku, yang diawali dengan kedatangan komet di bumi. Di sutradarai oleh Nakoula Besseley Nakoula seorang Kristen koptik kelahiran Mesir yang mengaku sebagai  Sam Basel (Sam Bacile), seorang pengembang real-estate Yahudi-Israel. Video asli berdurasi sekitar 70 menit ini, diunggah ke Youtube menjadi 14 menit oleh akun Sam Bacile dengan judul The Real Life of Muhammad, bahkan di dubbing ke dalam bahasa Arab pada September, 2012 dan disebarluaskan oleh Morris Sadek, seorang blogger Kristen koptik keturunan Mesir-Amerika. Yang menarik adalah beberapa sumber mengatakan bahwa film ini telah mengalami perubahan drastis selama masa post production, Over-Dubbing.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Marilah kita lebih mendekatkan diri kembali kepada Allah, supaya kita diberikan keteguhan Islam dan Iman, lebih mengenal dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dan juga junjungan kita nabi Allah, Muhammad SAW.

Secara singkat film ini memang  sangat mencerminkan kebencian terhadap Rasulullah dan kaum muslim. Ditunjukkan bagaimana perilaku dan sifat beliau yang diputarbalikkan.  Banyak sekali reaksi yang terjadi; di Indonesia Menteri Komunikasi dan Informatika, Bpk.  Tifatul sembiring memastikan film tersebut diblokir  di youtube Indonesia, sedangkan di belahan dunia yang lain, di jazirah Arab dan timur tengah banyak terjadi protes dan juga demonstrasi besar-besaran, kemudian ada juga reaksi dengan memberikan buku biografi Muhammad seperti yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin di U.K.

Menurut pendapat Khatib, hal ini memang disesuaikan dengan peran dan kemampuan masing masing dalam memberikan respon, Apakah kita marah? Pasti! Saya juga, saya sebagai Muslim Marah. Namun apa yang bisa kita lakukan sekarang? Apakah kita memiliki banyak sumberdaya? Media? atau komunitas untuk menyebarkan kebenaran tentang Islam dan tentang Rasulullah, seperti yang dilakukan saudara muslim kita di Inggris? Jika ya,, silakan, laksanakan. Namun satu pertanyaan besar kemudian muncul.

Sejauh apa kita mengenal Rasulallah?

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah

Marilah kita bersama mengenal lebih dalam  junjungan kita, nabi Allah, Muhammad SAW.

Diantara karunia dan rahmat besar yang dilimpahkan kepada kita sebagai umat akhir zaman adalah dilahirkannya Muhammad SAW yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Berdasarkan hadits shahih, Rasulullah lahir pada hari Senin. Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Ar-Rakhiqul Makhtum berpendapat beliau lahir pada tanggal 9 Rabiul Awal. Namun pendapat paling masyhur menyepakati beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal.

Kelahiran Rasulullah adalah rahmat yang sangat besar. Beliau, setelah diutus menjadi Nabi, empat puluh tahun setelah kelahirannya, dipuji oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang menjelaskan karakter sang Nabi terakhir ini:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128)

Dalam menjelaskan ayat ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan, “Allah tidak mengatakan ‘rasul dari kalian’ tetapi mengatakan ‘dari kaummu sendiri’. Ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena beliau adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif.”

Sedangkan Ibnu Katsir dalam Tafsir Qur’anil Adzim berkata, “Allah SWT menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang mukmin melalui seorang rasul yang diutus oleh-Nya dari kalangan mereka sendiri, yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka.”

Rasulullah merasakan beratnya penderitaan dan kesulitan umatnya, bahkan lebih berat bagi Rasulullah daripada apa yang dirasakan oleh umatnya sendiri. Maka setiap saat yang diperjuangkan adalah umat, yang dibela adalah umat, yang dipikirkan menjelang wafat adalah umat. “Ummatii… ummatii…”, kata Rasulullah yang selalu memikirkan umat belia menjelang wafat.

Rasulullah juga sangat menginginkan umatnya memperoleh hidayah serta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Maka segala hal yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada umatnya telah beliau sampaikan. Segala hal yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan Rasulullah menyimpan doa terbaiknya untuk umatnya kelak di yaumul hisab agar umatnya memperoleh syafaat. Itulah bentuk-bentuk kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.

Jamaah Jum’at rahimakumuLlah,
Lalu bagaimana sikap kita terhadap beliau yang demikian luar biasa kasih sayangnya kepada kita? Beliau yang namanya kita sebut dalam syahadat, kita bersaksi bahwa beliau adalah Rasulullah lalu kita membacanya setiap kali shalat. Salah satu kewajiban kita terhadap beliau adalah meneladaninya. Menjadikannya sebagai teladan sepanjang zaman.


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَ كَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini menjadi pedoman bagi kita bahwa manusia terbaik yang harus kita teladani adalah Rasulullah SAW. Teladan yang seharusnya kita contoh perilakunya, kita contoh kata-katanya, kita contoh ibadah dan akhlaknya.

Dalam ayat yang lain Allah SWT menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah baru dikatakan benar jika seseorang meneladani Rasulullah dan mengikuti sunnahnya.


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Meneladani Rasulullah itu artinya kita mengikuti sunnahnya dan tidak menyelisihinya. Kita mentaatinya dan tidak menentang ajarannya.

Rasulullah bersabda:

Sungguh aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Mereka yang bersegera untuk mengikuti petunjuk Nabi yang diketahui melalui hadits-haditsnya akan dijanjikan surga. Sementara mereka yang enggan mengikuti sunnah Nabi, enggan mengikuti hadits Rasulullah dan lebih suka menyelisihinya akan menyesal di akhirat nanti sebab ia menolak surga dan terseret ke neraka.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku masuk surga selain yang enggan,” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari)
Semoga kita tergolong umat Muhammad yang berusaha mempelajari sunnahnya, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang menyelisihi hadits-hadits Nabi, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlak dan muamalah.


وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah jumah rahimakumullah…

Dalam khutbah yang kedua ini, marilah kita bersama-sama mempertebal iman dan taqwa kepada Allah, juga terus menerus berusaha untuk meneladani Rasulullah saw.

Rasulullah Muhammad SAW. Begitu singkat bagi seseorang dalam memimpin suatu bangsa dan kaumnya, 23 tahun; namun memiliki peran sangat berarti bagi bangsa dan kaumnya; bagi Islam. Beliau bahkan ditempatkan di peringkat pertama pada  The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History buku dari Michael H. Hart. Buku terbitan tahun 1978 yang dicetak ulang pada 1992 dengan revisi. Dan memang benar, Rasulullah adalah manusia sempurna yang menjadi nabi dan rasul terakhir di dunia ini.

Rasulullah sebagai seorang manusia memang sengaja diturunkan ke bumi untuk menjadi contoh nyata bagi manusia. Dan itulah hikmahnya. Sehingga manusia tidak pesimis atau enggan mencontoh Rasulullah , karena Rasulallah  juga seorang manusia.

Jika Allah SWT  mengutus Malaikat untuk menyampaikan ajaran-Nya untuk menjadi panutan bagi manusia, maka Allah mampu untuk melakukan itu. Tetapi ceritanya akan berbeda. Bahwa tabiat Malaikat berbeda dengan tabiat manusia. Jika Malaikat yang diutus dan dijadikan tauladan, maka manusia bisa membuat alasan untuk tidak mencontohnya, mereka akan berkata: “wajar, karena dia Malaikat, tentu berbeda dengan kita”.

Dan respon positif yang bisa dilakukan, terhadap “Innocence of Muslims” ini adalah dengan meneladani Rasul. Marilah kita senantiasa berusaha untuk meneladani rasul, sosok yang memang sudah sewajarnya dan seharusnya kita tauladani. Meneladani rasul sebenarnya adalah cara kita untuk dapat menyelamatkan diri sendiri, cara untuk menjadi pribadi yang sukses, di dunia maupun di akhirat. Belajar, dan mencari tahu tentang beliau, mulai belajar tentang Sirah Nabawiyah, yang bukunya juga ada di Musholla tercinta ini. Belajar tentang sejarah beliau, sejarah perjalanan islam, tabiat beliau, perilaku dan kesantunan beliau. Bagaimana beliau memimpin dan membesarkan umat  Islam. Kemudian menyebarluaskan keteladanan beliau dengan baik dan santun pula, kepada mereka yang belum mengerti Rasulallah, kepada mereka yang ingin belajar dan ingin mengerti. Wallahu’alam bishowab

Semoga Allah SWT. senantiasa memberikan kita petunjuk dan kekuatan untuk bisa memuliakan Rasulullah Saw dengan sebenar-benarnya. Memuliakan beliau dengan berpegang teguh terhadap ajarannya, dengan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari dan dengan cara membela serta memperjuangkan ajaran Islam.

 اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

 عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Movie | Tags: , , | 2 Comments

Idul Fitri 1433 H.

Eid-ul-Fitr, “Eid-ul-fitr”, Eid al-FitrId-ul-Fitr, or Id al-Fitr (Arabic: ‎عيد الفطر‘Īdu l-Fiṭr), often abbreviated to Eid, is a Muslim holiday that marks the end of Ramadhan, the Islamic holy month of fasting (sawm). Eid is an Arabic word meaning “festivity”, while Fiṭr means “breaking the fast”. The holiday celebrates the conclusion of the 29 or 30 days of dawn-to-sunset fasting during the entire month of Ramadan. The first day of Eid, therefore, falls on the first day of the month Shawwal. This is a day where Muslims around the world try to show a common goal of unity.

~paragraph pertama saat mengunjungi Wikipedia dengan kata kunci eid fitr~

Sebentar lagi, seluruh ummat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1433 H. (CMIIW =D). Kurang lebihnya 4 hari, jika artikel saya ini publish di hari yang sama. Idul Fitri adalah hari yang sangat ditunggu oleh Ummat Islam. Kenapa demikian? Tanyalah kepada mereka yang bekerja merantau di kota? Atau tanyalah kepada saudagar kaya di desa tercinta? Atau mungkin tanyalah kepada Penyiar Radio di Tunisia, Amerika, India, atau Papua.. (biar rima-nya cocok). Jawabannya bisa bermacam-macam, namun menurut saya secara umum adalah sama; Mereka rindu untuk berkumpul dengan keluarga, berkumpul di rumah.

(Namun, terlepas dari perasaan rindu, kangen dan lain sebagainya. Kita wajib memahami bahwa Idul Fitri adalah Ibadah. Idul Fitri adalah Ibadah yang dilakukan karena Allah Swt, karena kita telah berhasil melaksanakan perintah-Nya dalam melaksanakan Puasa 1 bulan penuh, Insha Allah)

Ya, memang itu yang dirasakan oleh penulis saat ini dan beberapa semester belakangan. Karena memang jauh dari keluarga dan merantau bak pemuda Minang. Sulit dipungkiri memang, rasa rindu untuk kembali ke rumah, untuk bertemu dengan keluarga, saudara handai taulan, sahabat. Terkadang terlintas juga di alam pikiran kita, “Lhah disini kita juga ketemu temen baru, sahabat baru. Ada keluarga baru juga. Namun, tetap saja ada sesuatu yang yang beda yang terkadang tidak bisa kita definisikan dengan mudah, kenapa kita bisa rindu sekali untuk “pulang”.

Entah kenapa saya jadi tidak fokus menulis artikel ini. Mungkin karena memang terlalu rindu sehingga mengaburkan konsentrasi saya. Namun, sebenernya di artikel ini saya ingin menyampaikan beberapa budaya di Indonesia yang sering dilakukan selama hari Raya Idul Fitri. Sekadar berbagi cerita apa yang biasanya saya lakukan selama 2-3 hari awal bulan Syawal; Idul Fitri –Red-

1.       Kumpul, Sholat Jama’ah, Bersalaman.

Mengenai pelaksanaan Ibadah Sholat Sunnah 2 raka’at idul Fitri. Bahwa kita diperintahkan berkumpul, dan sholat berjama’ah, dengan syarat dan tuntunan yang telah jelas diperintahkan. Masalah bersalaman ini yang perlu di perhatikan. Pasalnya, jika kita meyakini bahwa perintah untuk bersalaman hanya dilakukan atau diutamakan pada saat hari raya tersebut, sepengetahuan saya itu tidak ada tuntunannya. Yang perlu diperhatikan adalah, untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, kemudian mengucapkan salam saat bertemu saudara muslim yang lain, adalah diutamakan setiap saat. Setiap kali kita melakukan kesalahan. Bukan hanya diwaktu Idul Fitri. Jadi jangan sampai kita terjerumus bahwa melakukan salam-salaman setelah sholat Idul Fitri adalah kewajiban dan ada tuntunannya. Menurut saya, selama kita mengamalkan hal tersebut sebagai muamalah Insha Allah tidak ada dalil yang menyebutnya bid’ah atau mengharamkan. Wallahu’alam.

2.       Makan sarapan seperti biasanya (bukan sahur)

Nah, ini yang mantab. Hmm, karena sudah kebiasaan selama satu bulan makan pas dini hari dan matahari belum terbit. Kita bisa kembali menikmati makan di waktu matahari terbit, Lambung biasanya harus beradaptasi cukup kuat dengan hal ini. Biasanya di rumah, Ibu membeli ketupat kemudian memasakkan sambal tempe atau opor. Alhamdulillah. Dan Sarapan di hari Idul Fitri sebelum melaksanakan sholat adalah sunnah, dan hal ini di contohkan oleh Rasulallah swt. FYI, saat hari raya Idul Adha, Nabi Allah mencontohkan untuk tidak memakan sarapan, hingga selesai sholat Idul adha supaya bisa memakan daging korban sembelihan.

3.       Makan: yang ini wajib, ^^ ke tempat Alm. Eyang dulu.

 Lain lagi dengan yang ini. Setelah tadi sunnah untuk makan sebelum sholat Idul Fitri. Kegiatan makan yang ini dilakukan makanan yang sudah disiapkan di Rumah Alm. Eyang bisa habis dan tidak mubazir. ^^. Selama kita tidak berlebihan, Insha Allah diridhoi. Namun, karena Eyang sudah lama wafat, kami tidak bisa berkumpul lagi di rumah tua nan syahdu itu. Sekarang biasanya beberapa om dan tante saya datang mengunjungi rumah Ibu, karena beliau adalah anak tertua. Namun itupun sering dilakukan setelah 1 Syawal, karena mereka mengunjungi keluarga Ipar dahulu yang masih sehat Kakek-Neneknya.

4.       Makan: yang ini sunnah mu’akad. Yang dianjurkan dengan sangat. Makan saat mengunjungi keluarga dengan berkeliling.

 Lagi-lagi,, jangan sampai kekenyangan ya,, Sunnah Rasul “makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”. Namun, sering pula kita lalai sebagai manusia. Jadi saran saya, pilih makanan yang banyak, namun sedikit kuantitasnya. Jadi kita bisa tetap menghargai mereka yang sudah capek memasak.

Itu tadi beberapa dari kegiatan saya selama Idul Fitri.  Selanjutnya, saya juga ingin berbagi tentang beberapa hal yang dianggap lazim, sebenarnya mungkin tidak (belum) pernah diajarkan oleh Rasulallah SAW. Budaya yang berkembang karena kebiasaan atau mungkin Bid’ah (wallahu’alam). Konteks saya disini hanya sekadar membagi informasi dari mini riset yang saya lakukan. Stay tune then..

1.       Mudik berjama’ah.

Untuk perkara yang satu ini wajib dilakukan bagi mereka yang jauh dan ingin ketemu dengan keluarga. Maksud saya, bagaimana bisa bertemu dengan keluarga jika raga tidak di tempat yang sama. Masalah kewajiban untuk pulang atau tidak, itu tergantung situasi, kondisi dan permintaan ibunda tercinta. Karena biasanya, keinginan mencium tangan ibunda tercinta bisa memberikan kekuatan besar dan motivasi untuk mudik. ^^

Yang jadi permasalahan sekarang adalah, mudiknya sendiri. Kita harus mengerti maksud dan tujuan kita melakukan mudik. Keliatannya sepele, tapi mengerti dan memahami di sini sebenarnya jauh lebih dalam lagi. Seperti misalnya, waktu memilih mudik. Seandainya masih diberikan kekuatan jasmani dan akal sehat, umumnya mudik dilakukan sebelum 1 Syawal. Dilakukan dengan pengharapan bisa melakukan sholat Idul Fitri berjama’ah dengan keluarga besar, dan berkumpul dengan keluarga. Masalahnya adalah?

Masalahnya adalah, berapa banyak dari kita yang mudik di bulan Ramadhan ini dan bahkan hingga membatalkan puasa karena alasan mudik? Kita harus jeli belajar dan memahami asal usul, kekuatan fiqh serta prioritasnya. Everyone has their own priority right?

Memang bagus niatan untuk pulang, namun jika karena alasan yang *sunnah dibandingkan kewajiban kita untuk berpuasa, apakah hal itu bisa dijadikan pembenaran? Menurut hemat penulis, jika kita melakukan mudik dan masih bisa melakukan ibadah sunnah, seperti Sholat Tarawih, Witir atau mengaji itu lebih baik. Namun jika lalai dikerjakan, ya Insha Allah tidak berdosa. Namun ingat, kewajiban kita di Bulan Ramadhan adalah Puasa, maka jalankanlah puasa itu.

2.       Baju baru, Alhamdulillah. Tuk dipakai di Hari Raya

“Apa iya kalau lebaran (Idul Fitri-Red), harus baju baru?”

Simak yang berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Belilah pakaian ini, engkau berhias dengannya dihari raya dan disaat para utusan datang mengunjungimu.”(HR.Bukhari: 925). Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar -Radhiallahu Anhu- bahwa Beliau memakai pakaiannya yang paling bagus pada dua hari raya.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dan Al-Baihaqi, Ibnu Hajar mensahihkan sanadnya dalam fathul Bari: 2/519)

Yang disampaikan dari hadits ini adalah, bahwa kita harus bersih dan indah saat akan melaksanakan Sholat Ied. Bersih, itu wajib saat kita akan melaksanakan sholat. Nah, kalau indah? Karena memang Sholat Ied dihadiri oleh ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu manusia maka sepantasnya kita mengenakan baju dan sandangan yang indah. Seandainya ada rezeki untuk membeli pakaian baru, akan lebih baik. Namun jika tidak ada, seperti yang diteladankan oleh Rasul Allah, Beliau mengenakan pakaian terbaiknya saat hari Raya Idul Fitri ini. Jadi memang benar, saat punya baju baru sudah sepatutnya mengucapkan syukur Alhamdulillah.

 3.       Halal bi Halal.

Ilmu bahasa Arab saya yang pas-pas an Alhamdulillah bisa mengerti arti kalimat ini, Halal dan halal. Menurut saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan tradisi silaturrahim saat hari Raya Idul Fitri.

Sedikit melakukan riset di google, saya menemukan website yang bagus untuk memberikan keterangan mengenai hal ini. Silakan kunjungi di sini.

Tadinya saya hanya ingin membahas mengenai nama saja, ternyata lebih lengkap dijelaskan di dalamnya. Jadi silakan berkunjung, dan dicermati dengan baik, Insha Allah bermanfaat.  Bahasan yang menarik dan lengkap tersebut mengetuk saya, bahwa kita HARUS BENAR-BENAR PAHAM DAN MENGERTI batasan antara beribadah dan muamalah, asal usul kejadian dan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah, maupun yang tidak dilaksanakan oleh Rasul.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.

“Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– sudah ada jika itu maslahat (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.” Waallahu’alam.

4.       “Minal aidin wal faizin”

Ungkapan yang ini paling sering digunakan saat bersalaman dan saling meminta maaf.  Saya berikan sedikit saran, saat ada orang lain mengucapkan “minal aidzin wal faidzin” silakan anda menjawab, bisa dengan sedikit mengeraskan suara. “Insha Allah, amin”. Pasti mereka akan bertanya. Ya, pertanyaan yang menggiring saya untuk melakukan riset lebih dalam lagi. Sekali lagi mengingatkan ini bukan amalan ibadah karena tidak ada dalilnya, tapi muamalah. Ok?

Jadi seperti ini penjelasannya:

 “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).”

“Minal aidin wal faizin (dari orang yang kembali dan menang)”

Kedua kalimat di atas berkembang dari tradisi dan sama sekali tidak pernah di contohkan oleh Rasulallah SAW. Namun, karena kebiasaan (‘urf) hal ini jadi berkembang luas.

Riwayat Rasulallah SAW, beliau menjawab: “ Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya adalah semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.”

Al-Baihaqi dalam kitabnya “As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab:  “Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari ‘Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.” Sedikit bahkan nyaris tidak ada sanad ke arah sana, satu diantaranya di dalam kitab tersebut Al-Baihaqi menerangkan:

عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Bahasan mengenai perkara ini bisa pembaca semua baca lebih dalam di sini.

Kesimpulan yang saya terima adalah bahwa, Rasulallah SAW, tidak mendahului mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka”, namun saat beliau disapa seperti itu, beliau tidak menyalahkan dan lantas menjawabnya. Lebih lanjut lagi, ucapan ini sering dilakukan oleh para shahabah dan tabi’in setelah hari raya Idul Fitri.

Mengutip dari situs tersebut: “Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya (dalam Islam) dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.

Dan sebaik-baik tingkah laku manusia adalah tingkah laku yang dicontohkan oleh Rasulallah, Muhammad SAW. Wallahualam bishowab.

Categories: (INA), Islam (الإسلام) | Tags: , , , , , | 2 Comments

Dari Penjaga Musholla.

“Elu terbukti Islam, karena mengucapkan dua kalimat syahadat. Kepatuhan lu (kepada Allah swt) terbukti, karena lo menegakkan sholat. Kesetiaan lu terbukti kalo lo menjalankan ibadah puasa. Kepedulian lu (Kepada sesama manusia) terbukti , kalo lu ber-Zakat. Dan totalitas lu, penyerahan diri lo pada Allah swt terbukti, kalo lo (mampu) menjalankan ibadah Haji.

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Quotes | Leave a comment

Taufiqy.

“Dalam Islam, hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya.

Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Quotes | Leave a comment

Lunch in Ramadhan.

[2012, August 3, Friday]
10:00 p.m : Got back from Masjid, bought some spices to make rendang.

10:15 p.m : Lisa called. She said that all of us will meet in Saturday morning before go to lunch. I told I have to do a Shaum. [Meaning that I have to restrain my lust, to eat, to drink, to do any input from my mouth, as well as sex lust start from Fajr to Maghrib]
[2012, August 3, Saturday]
00:05 a.m : Lisa called again, and she asked, “Okey, we know you can not eat. And you can drink water or tea.

00:07 a.m : Oh my, oh my, I told her clear, but they indeed have never known about someone who can’t eat or drink or put any kinds of food & beverage inside your body, especially through your mouth. I literally said that to her.

01:00 a.m.: My roomate finished make the rendang.

Most popular food in Western Indonesia

01:05 a.m: started to have my sahur this morning. First part.

03:30 a.m : My second sahur today..I had to eat faster…Shubuh will start around 4:00 a.m.

04:20 a.m : finished my Fajr Praying.

04:30 a.m : I moved my bed on the floor..I realized, that I have to wake up early. Started listening to the music..

5:40-something a.m : last clock number on my cellphone that I can memorized while I was awake. And I have to wake up this morning at 09:40

10:05 a.m : Heavily tried, to opened my eyes..but it was very difficult. Got only about 4 hrs sleep, after very exhausthing day. 7 missed calls on my phone. and I just ran away to the bathroom. Took a facial wash..harshly grrabed my bag…and ran!! On my way to the bus station, fortunately I met Wang Cun.. (she often late too..=p) And I walked with her, to the bus shelter, and met my 4 other friends. hehehe..they were late too..kkk.

10:25 a.m. : we took 100 bus to the station. Taichung Main Station.
I plugged my earphone, listen to music. Chit-chat for a while..and it was like, much longer than usually it takes from my campus, Asia University to Taichung Main Station

11:20 a.m :Arrive to the scheduled place. But unfortunately the electricity was down. And we have to take the back elevator (cargo elevator =p) to get to 10th floor.

Magic Curry

11:30 a.m : Waitresses offered us menus, and we started to order. Excluding me. Main dish in this restaurant is India-like curry.

India Curry

12:45 a.m : All dishes are finished, including the dessert.

12:50 a.m : They started to chit-chat each other. And this i would like to named as “Chinese Dining  Table Politics”. [As they started to chat, and empowered the relationship among them]

2:25 p.m : Finished all session, with saying thank you to teacher (Lao shi). We had a very nice time their. And I went back to my dormitory, with one curry. Teacher bought for me.

take away India Curry.

6:58 p.m : It’s Iftar time. Alhamdulillah. I’ve done the best I could. Insha Alloh.

ps: They appreciate for what I believe, to have Shaum in Ramadhan… And I appreciate them, because they had invited me to their event.

More ps: Only Kang-Kang and Pudding always made those jokes by saying, haa,,,hao che laa ( meaning good food= delicious), and hen hao he.. (meaning really good drink= delicious as well). It’s nice having their jokes, making me still being appreciated. ^^

More important ps: I had this conversation with deep meaning with my friend Mr. AA. In regard of “History of Ammar ibn Yasir“, one of the best Shabahah of Muhammad, Rasulallah SAW. In the end, I realized, although faith is kept between human being and God..but still we have to struggle hard to do it, no matter what, the best we could. Then, compensate it, because we’ve been granted by blessings from Allah SWT.  

Categories: (EN), Food & Beverages, Islam (الإسلام), Taiwan (台灣) | Tags: , , | Leave a comment

Mas Cipto.

   Alhamdulillah, wa syukrillah.. malam ini malam ketiga bulan Ramadhan 1433 H. Dan untuk kali kedua saya menjalankan ibadah puada di bulan Ramadhan ini di Taiwan. Nun jauh dari negeri asal tercinta Indonesia.

   Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan saat bulan Ramadhan, dan untuk malam yang ketiga ini saya bersama beberapa teman-teman kampus memutuskan untuk melaksanakan sholat Tarawih di Masjid Taichung. Keempat teman saya ini, sebenarnya satu angkatan sekolah saya di Asia University, namun mereka belum sempat merasakan Puasa di Taiwan pada tahun sebelumnya karena mereka pulang kembali ke Indonesia.

Tampak depan Masjid Taichung, Taicung County.

Karena jarak yang cukup jauh antara kampus saya dengan Masjid Taichung; sekitar 1 jam perjalanan. Kami memutuskan untuk berbuka puasa di masjid, kemudian diteruskan dengan melaksanakan Sholat Isya dan tarawih.

Di Taiwan ini sebenarnya banyak sekali TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Bisa jadi yang paling banyak di antara Negara Asia Timur yang lain seperti Jepang, Korea, kemungkinan kurang lebih hampir sama dengan TKI yang berada di Hongkong. Sangat menyenangkan bertemu dengan saudara sebangsa ini. Banyak kejadian menarik saat persuaan kali ini. Salah satunya adalah bertemu dengan Mas Cipto, sesuai judul kali ini.

Seperti biasa, saat memasuki waktu Maghrib kami di masjid menyiapkan tempat duduk serta meja untuk membatalkan puasa. Makanan khas di sini saat membatalkan puasa adalah teh dan dengan buah. Banyak sekali buah-buahan, termasuk kurma. Dan kejadian menarik pertama adalah, saat saya dan teman-teman kampus saya duduk di meja beberapa kenalan TKI saya menanyakan, “Mas, temannya pada kemana? Mas sendiri?”. Sambil tersenyum simpul, saya menunjuk teman saya Reja, “Lha itu mas.”. Kemudian kawan saya ini menjawab dengan cepat bahwa dia berasal dari Indonesia. Memang, teman-teman saya yang datang ke masjid kali ini semuanya berasal dari Nangroe Aceh; Serambi Mekah. Dan memang beberapa dari mereka keturunan Arab, Portugis, dan India.

Selesai membatalkan puasa, kami melaksanakan Sholat Maghrib, kemudian kami makan besar di basement masjid. Seusai menyatap makanan khas Taiwan, saya keluar ke halaman masjid dan bertemu dengan salah satu TKI.

Dan perbincangan singkat pun terjadi. Saya berbincang cukup panjang dengam Mas Cipto. Kami bercerita banyak hal, dan satu yang membuat saya terkejut adalah. Sebelum bekerja di Taiwan, (sekarang sudah memasuki bulan ketiga), Mas Cipto ternyata sebelumnya bekerja di Arab Saudi selama 2 tahun. Dan yang lebih mengejutkan dan membuat saya tergetar adalah, ternyata Mas Cipto sudah melaksanakan haji. Subhanallah.. Satu hal yang membuat saya terkejut sekaligus bahagia adalah, walaupun bekerja di Arab Saudi, beliau mau meluangkan waktunya untuk melaksanakan Haji di sana.

Hajar Aswad sedang dikerumuni orang [Courtessy of Wikipedia] –

   Cerita seputar kehidupan Mas Cipto di Arab, mengisi sebagian besar waktu percakapan kami. Bagaimana beliau menceritakan bahwa, di Arab itu ternyata orang-orangnya (Menurut cerita Mas Cipto), memilik ritme kehidupan yang terbalik. Mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat di siang hari, dan bekerja dan melakukan aktivitas di malam hari. Dan karena alasan itu pula, menurut Mas Cipto membuat sangat sulit untuk beliau bisa memegang Hajar Aswad.

   Banyak sekali yang diceritakan beliau, tentang perjalanan haji, pekerjaan di sana, karakter orang Arab. Sungguh sangat iri saya, iri yang Insha Allah,  diridho oleh-Nya. Karena saya ingin sekali mengunjungi Tanah Haram. Melaksanakan haji, dan menunaikan Rukun Islam yang kelima.

  Semoga saya bisa menunaikan Ibadah Haji, seperti Mas Haji Cipto… ^^ Insha Allah, amin…

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Taiwan (台灣) | Leave a comment

Dirikanlah Sholat.

… Dirikanlah Sholat …

ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ (٤٥

{سُوۡرَةُ العَنکبوت}

Recite that which hath been inspired in thee of the Scripture, and establish worship. Lo! worship preserveth from lewdness and iniquity, but verily remembrance of Allah is more important. And Allah knoweth what ye do. (45)

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab [Al Qur’an] dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah [shalat] adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain]. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (45)

Qur’an Surah Al-Ankabut 29, Verse 45.

This verse always make me interesting.

Yang menarik dari ayat ini adalah, paling sering dikutip! Sepanjang pengetahuan saya, ayat ini paling sering dipakai. Pertama, karena ibadah wajib yang dilakukan dan mencerminkan Ummat Islam adalah ibadaah Sholat. Dan amalan inilah, yang nantinya di hisab (dihitung), pertama kali saat datangnya hari kebangkitan.

Kemudian apa yang menarik dari ayat ini? (versi saya), kebanyakan orang, terutama di Taiwan ini (kebanyakan dari mereka mempercayai banyak dewa)  tidak mempercayai adanya Tuhan. Karena saya berasal dari Indonesia, beberapa teman, kenalan dan kawan lab. saya kemudian mencari tau mengenai Indonesia. Lebih jauh lagi, karena tidak jarang saya meminta ijin untuk meninggalkan lab dengan alasan sembahyang, (Sholat -red-), mereka kemudian mencari tau tentang Islam.

Saat kemudian bertemu kembali dengan saya, mereka menanyakan banyak hal mengenai Islam. Dan yang menarik dan saya kira sesuai dengan ayat ini adalah bahwa, kenapa banyak sekali umat Islam yang ada di Indonesia, namun banyak sekali terjadi kejahatan, kerusakan, dan hal-hal lainnya. Bahkan, mereka membandingkan dengan kondisi yang ada di Taiwan, atau bahkan Jepang. Yang beberapa dari mereka tidak mempercayai tuhan, malah bisa hidup rukun, sedikit kejahatan, sedikit kerusakan.

Bahasan mengenai hal tersebut bisa panjang lebar, dan saya yakin hanya akan menimbulkan masalah lebih besar saat yang mendiskusikan hal tersebut tidak memiliki asumsi dasar serta pesepsi yang sama.

Yang ingin saya bahas adalah mengenai sitiran ayat ini, dalam Islam, Kita diajarkan untuk memahami Islam secara Kaffah (Menyeluruh), dengan mempelajari Islam sedikit-demi sedikit dan kontinyu, Insha Allah kita akan menuju ke arah kaffah tersebut. Begitu pula dengan memahami konteks makna Al-Qur’an tersebut. Sebagai contoh, dalam satu surat di Al=Qur’an terdapat berpuluh bahkan beratus ayat, dan kesemuanya itu saling berhubungan satu sama lain. Kemudian, untuk satu pokok bahasan, besar kemungkinan di dalam Al-Qur’an tidak hanya dijelaskan dalam satu ayat, bisa berhubungan dengan ayat selanjutnya atau dijelaskan oleh ayat sesudahnya.

Dalam perintah melaksanakan sholat ini, terdapat setidaknya 4 bagian dalam satu ayat ini. Ingat 4 Bagian.

1: Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu yaitu Al-kitab dan dirikanlah sholat.

Disini kita diperintahkan untuk membaca, dengan membaca kita diwajibkan untuk memahami apa yang telah disampaikan untuk kita di dalam Al-Quran. Dalam bahasa saya, Al-Qur’an adalah manual kehidupan. Lalu perintah untuk mendirikan sholat. Jadi disini, Sebelum melaksankan sholat kita diperintahkan untuk setidaknya membaca Al-Qur’an. (Syukur-syukur memahami), namun bukan berarti kita tidak melaksanakan sholat saat belum membaca seluruh isi Al-Qur’an. Di sini terdapat koherensi, bahwasanya pelaksanaan sholat itu sebenarnya adalah pengejawantahan apa yang terdapat di seluruh isi Al-Qur’an (Pendapat pribadi saya). Jadi, dengan melaksanakan Sholat kita memiliki pondasi yang kuat untuk menjadi Islam yang benar dan baik, seperti yang ada di dalam Al-Quran.

2: Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar

Sempat terlintas di benak saya, kenapa menggunakan kata “sesungguhnya”, apa ada yang tidak “sungguh”, atau bisa berarti ada hal yang “kurang sungguh”? Sholat tidak hanya mengerjakan takbir,  ruku’, sujud, dan tasyahud. Di sini lagi-lagi Al-Qur’an mengingatkan kita bahwasanya Sungguh lo, lu itu belum sungguh sungguh kalo belum mencegah diri lu sendiri dari perbuatan keji dan mungkar!”

3: Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya).

Sederhana sekali, sudah bisa mulai memahami kan? Urutannya? Saat tau isi Al-Quran, melaksanakan Sholat, kita mendirikan, yang akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Sekali lagi dijelaskan disini, dan bahwasanya mengingat Allah itu adalah lebih besar keutamaannya! Saat kita meresapi dalam hati bahwa mengingat Allah (Dzikrullah), itu tidak hanya cuma di lisan saja. Bahwa kita menyadari betul bahwa Allah Ta’ala selalu melihat kita, selalu tau apa yang kita kerjakan, bahwasanya sampai isi hati kita juga diketahui oleh Allah Ta’ala. Apa iya kita bakal melakukan kegiatan yang mungkar? Keji? Dan merugikan orang lain, sedangkan tidak ada satu ayat pun, tidak ada satu ajaran pun di dalam Islam yang menyuruh kita berbuat maksiat, keji, mungkar? Astaghfirullah. 
4: Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Sudah saya sampaikan di atas, saking  semangatnya.. ^^. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Jangankan yang dikerjakan, yang di dalam hati saja Allah Ta’ala  tau.
Kesimpulan saya..
Dari tulisan yang amburadul ini, saya harap semua yang membaca ini bisa tau. Penyebab terjadinya banyak kerusakan, kemunkaran, tindakan keji, di negara kita, Indonesia. Mereka melaksanakan sholat, dan mungkin (Wallahualam), yang kita dapatkan hanya capek karena sujud dan ruku’ saja,, tanpa meresapi dalam hati, bahwa Sholat sebagai pondasi agama dan perilaku Ummat Islam tidak sekadar gerakan saja. Tidak sekadar komat-kamit do’a saja. Ada hal lain yang mendukung di penjelasan arti ayat tersebut (Al-Ankabut, 45).
“Pelajari Islam secara Kaffah, tidak tergesa namun pasti. Tanamkan Iman yang kuat dan teguh. Sandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Wallahualam bi showab.
Categories: (INA), Islam (الإسلام) | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.