Gundah Gulana(h).

Hari ini cuaca di bumi Formosa Taiwan nampaknya sedikit gelisah. Sejak dini hari yang cerah membuncah, diselimuti awan yang indah. Kemudian tidak terasanya bangun tadi malam setelah memejamkan mata dari pukul 8 sampai sepertiga malam. Hingga terbit matahari. Lalu saat sepenggalah naiknya si Matahari, bintang paling dekat dengan bumi, rasa-rasanya hanya sedikit yang bisa istiqomah untuk bangun, menyucikan diri, meluruhkan dosa dengan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan Shalah Dhuha.

Masih resah dengan cuacanya, kemudian cuaca berganti tertutup awan, bukan mendung, tapi putih. Suasana mendadak syahdu merdu sendu. Bagaikan Qolbu yang sering dibalik-balik dengan mudahnya oleh, keadaan. Yang menyebabkan ‘keteguhan hati’ bukanlah frasa yang main-main.

Mulai berputar putar, karena saya sendiri sedang dihadapkan pada deadline, tenggat waktu kalau kata orang Melayu, mungkin Indonesia juga.

Sudah semenjak pagi berkutat di Laboratorium dan bersikeras mengejar tenggat waktu, yang saya persulit sendiri. Kebiasaan menunda adalah musuh terbesar di dalam diri saya. Mungkin bagi pembaca sekalian. Detik berganti menit, kemudian menjadi satuan jam. Sudah sore, dan sekarang cuaca Bumi Formosa berubah drastis. Hujan dan angin kencang. Mungkin taifun? Mungkin juga tidak? Hmm,,tapi badan ini harus kembali ke kamar, ingin mendapatkan makanan hati dengan berjumpa dengan Sang Pencipta, Allah swt. Makanan dan nutrisi hati yang bisa kita dapatkan kapan saja. Berbeda dengan puasa, kita bisa sholat kapan saja untuk mengingat Sang Khaliq. Datang ke Masjid selepas Ashr, tunaikan Tahhiyatu Masjid. Sebelum memasuki Dhuhur, bisa sholat Qobliyah Dhuhur 2 raka’at, syukur-syukur sebelumnya sholat Dhuha.

Ya rabb, sudah masuk hari kedua bulan Syawal. Memasuki hari hari dimana kita manusia tidak bisa lagi keluar rumah dengan restoran-restoran atau warung makan yang tertutup kelambu seperti di Indonesia yang menyiratkan ‘kami menghargai yang sedang berpuasa’. Dimana manusia tidak bisa lagi berombongan dengan saudara muslim lainnya untuk menegakkan ibadah puasa bersama-sama, mungkin. Waktu-waktu yang saya sering artikan sebagai waktu-waktu pembuktian cinta dan penghambaan yang sebenarnya kepada-Mu, Ya Rabb. Waktu-waktu dimana kita harusnya lebih merendahkan diri beribadah lebih khusyuk kepada Tuhan Semesta Alam. .

‘Setiap amalan ibadah dari anak cucu Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa, yang adalah untuk-Ku. Dan Akulah sendiri yang akan memberikan balasannya’

 (Hadits Qudsi).

Rasulallah, Muhammad SAW bersabda “Adalah separoh sabar, dan sabar itu adalah setengah Iman. Ia merupakan pintunya Ibadah, yang dengannya akan diperoleh dua kesenangan; yakni saat berbuka puasa dan kala berjumpa dengan Rabb kelak”.

Ya Allah, saya sudah merindukan Ramadhan yang baru saja berlalu.

Jangan salahkan hati yang sering dibolak-balik, kemudian disamakan pula dengan keimanan kita yang bisa naik turun. Alloh menyukai ibadah yang kecil sederhana namun kontinyu, perpetually. Ba’da Ramadhan ini adalah ujian sesungguhnya menurut saya. Ujian dari sebulan penuh pelatihan bagi ruh dan raga kita. Dan benarlah yang disebutkan, keimanan dan ketakwaan itu adalah urusan manusia dengan Rabb. Urusan yang tidak main-main.

Bagaikan cuaca Bumi Formosa yang sedang gundah gulana(h). Tulisan amburadul ini adalah sedikit kesetiakawanan dengannya. Dan Waktu Maghrib yang sudah berlalu selang beberapa menit yang lalu. Dan ruh yang selalu lapar.

Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

Senin 20 Agustus 2012|2 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , | 2 Comments

Hai Jiwa yang Tenang.

Yaa,,ayyaatuhannafsul muthma’innah.

Hari yang membuat badan sedikit lelah dan konsentrasi secuil berkurang. Layaknya cuilan kue kering tergigit oleh gigi-gigi yang mendamba kenikmatan. Namun, bahagia teramat sangat menyelimuti ubun-ubun saya, karena bisa melaksanakan sholat Idul Fitri 1433 H di Masjid Taichung. Bertemu saudara-saudara seiman, kawan-kawan, bahkan berkunjung ke rumah sahabat yang sudah berkeluarga di sini. Tentu saja tak lupa santapan khas Idul Fitri, rendang dan opor ayam. Alhamdulillah.

Setelah hampir seharian beramah tamah ditemani dengan rintik hujan di teras rumah. Terkadang deras terkadang menggerimis. Membuat suasana syahdu tenang,  menghanyutkan. Merasakan kebahagiaan dan ketenangan di hari raya ini.

Yaa,,ayyaatuhannafsul muthma’innah.. Hai jiwa yang tenang.

Disebutkan di dalam Al-qur’an di dalam surat Al-Fajr:27. Hai jiwa yang tenang. Setenang hari ini. Setenang rintik hujan yang rajin turun ke bumi untuk terus menyokong kehidupan. Menjadi hidup, menjadi tenang. Hari yang diharamkan untuk berpuasa, hari dimana kita diperintahkan untuk bergembira setelah selesai melaksanakan puasa wajib 1 bulan penuh. Hari dimana jiwa kembali tenang. Benarkah demikian?

Benarkah jiwa yang tenang hanya ada di hari raya idul fitri? Hai jiwa yang tenang, Insha Allah Ta’ala. Jawabannya ada pada diri kita sendiri, berada di jalan Islam untuk mencari jawaban dengan ridho-Nya. Amin.

Wallahu’alam bi Showwab.

Senin 20 Agustus 2012|2 Shawwal 1433 H.

[A]

 

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Incomplete.

Incomplete.

Can you see the flower being guarded with butterfly?

Dance all around with shine and shy

Can you feel there’s a star being cuddled by the sky?

I need you to know, all I want to do is try.

There’s always a pair, it’s  moon and sun

There’s always a pair of shoes while we took our run.

Lock-and-key strongly like bullet and gun.

Because a pair without you absolutely not fun.

#ForYouOutThere

[A]

Categories: (EN), Poem | Tags: , , , , | Leave a comment

Ressurecting the Champ.

Film yang bagus berdasarkan kisah nyata. Yep, Based on true story. Tapi jangan terpengaruh dengan apapun, termasuk pernyataan tersebut. Sedikit saran dari penikmat film yang mencoba mencari arti dan makna di balik film itu sendiri.

Film ini saya paksa tonton karena terlalu lelah dengan aktivitas laboratorium saya. Melirik beberapa file yang telah saya unduh beberapa waktu lalu, kemudian saya memutuskan untuk menonton film “Resurrecting the Champ”. Untuk resensi pembukaan pembaca yang budiman bisa membacanya di sini.  Saya akan memberikan sedikit ulasan mengenai apa yang saya tangkap dari film ini, tanpa mengurangi rasa penasaran anda nantinya, Insha Alloh.

Berjudul tentang membangkitkan sang juara, saya selalu penasaran dengan film berdasarkan judul, kalimat-kalimat yang pertama di ucapkan oleh tokoh utama, dan dengan keterangan based on true story. Menurut saya resensi sudah mulai membosankan, Trailer masih menarik, tapi resensi?

Semacam memberikan gambaran tentang apa yang akan kita tonton berdasarkan si peresensi. Bisa disesuaikan dengan kehendak sang Produser film atau sesuai kehendak yang publish si website masing-masing, seperti saya misalnya. Namun, yang akan saya bagikan disini adalah apa yang menarik yang saya tangkap dari Film ini.

Hal paling menarik yang saya tangkap dari film ini adalah, bahwa kasih saying dan perhatian kedua orang tua kita sangatlah besar. Mereka berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, terlepas apakah beliau kurang mampu secara financial, secara waktu, ataupun secara perhatian. Satu hal yang pasti saya dapatkan, secara manusiawi, orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Jangan dibayangkan dan diingat-ingat bagaimana banyaknya kisah orang tua yang tega membuang anaknya, tega meninggalkan mereka di rumah yatim piatu tanpa memberikan biaya dan cinta. Jauh dari dasar hati setiap manusia, kita semua diciptakan dengan kebaikan. Banyak hal yang mampu merubah itu, baik keadaan, ketidak-teguhan Iman, kurang percaya dan tawakkal kepada Allah swt, dan lain sebagainya.

Marilah kita semua senantiasa berjuang dan berusaha menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita, saudara, teman dan kerabat kita. Insha Allah, Amin.

#SedangMengusahakanCinta&MahligaiRumahTangga

Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

[A]

Categories: (INA), Movie | Tags: , , | Leave a comment

Chinese Dining Table Politic.

As I mentioned in my previous article, Lunch in Ramadhan. I was wondering about the mechanism how Chinese people make the network. Oh, by the way, this article will be based purely on my perspective and opinion with small research on the internet. ^^.  What I do first is, googling my on title in the internet, =p. And it came out for the dining table set from China. LOL.

The story began when I accepted offers from my Lab mates to go with them. I was going to go to all-you-can-eat restaurant. It was on 8 August 2012. For your information, in China generally and also in Taiwan, this day is commemorate as father’s day. Simply because this day (8 August) almost the same as Father. Which is,, Ba ba, or you may pronounce it, Pa Pa.. but with different intonation. Hmm.. I will catch you later, perhaps, with this one. Just bear with me for a second, simply as the same Pa Pa.. ok? :p

And it was decided that we will go to the restaurant in Chang Hua district, not far from where I dwell in Taichung District. It took aroung 15-20 minutes by motorcycle (FYI, almost 90 percent motorcycle here is Automatic-scooter type) with my friend. And I can feel the freedom while I was on the seat, breathing fresh air.. *wannaDoMore.

Front Desk..

The restaurant, Shian Yeou, what I know is that yeou is “fish” in Mandarin

Fifteen minutes passed, and we arrived on that place. Seriously, I couldn’t remember the name of the place, so just stick with it. And then we came inside the restaurant. There was around 30 students there, my lab mates. They are all my Advisor’s students. My professor hadn’t arrived yet, so we took our seat. The problem occurred, not enough seats for us. There are a lot of customers there. And also the queue long as far I can imagined. After sometimes bargained with the waiter there we got our seats, although sadly we have to be separated.

The Crowd

The Crowd in the restaurant, even the monks also enjoy the food there..

Separated Fellows

Separated Fellows with their own table.. ^^

As you can imagine, with the all-you-can-eat type restaurant, there’s a lot of foods and beverages. Yes, a lot of them. The main dish is, hmm.. I am not sure in English, just see this picture. We can order the “flavor” of the soup. There’s plenty of them, I need to make sure there’s no Pork or Pig Oil involved. As a MUSLIM, I cannot eat those kind of things. After asked about the ingredient, I decided to pick seafood flavor. And the journey begins…

My main dish.

My main dish, first pick. Mutton or Lamb, and Beef.

This place is pretty awesome. They have all kind of beverages and food as I recalled. They have the appetizer such as pudding, some fruit, salads and soup. The main dish, of course we have to put our own ingredient there. I chose Lamb and Beef for the meat, some cabbage, lettuce, carrot (for my eyes :D), and also young bamboo tree.. Young bamboo tree is very famous here, as well as in my country, Indonesia. I also picked plenty fish types, from Mackerel, Tuna, Scallops, *yummy. Move on to the next one, I took my first beverages. I took warm tea. That was my strategy, because if I took the carbonated drink here, I will full first before I can fill my stomach. So I came back to my table, and pick few Guavas and Lemons.

Appetizer

Appetizer here.. ^^

In my table, I started to turn off the heater. My first mistake was I forgot to turn it on first, like my other friends did. So when they had come to the table, the soup already boiled. Well, I should never make that kind of mistake again ^^. Quite interesting to me was, the stove there is electric. Well, I think because of the safety reason. And you know what? Taiwanese prepares electronic handling very well. Ya, you know laa (Taiwanese-English ^^ , Taiwan also famous of its electronics appliance. While my soup being heated, I use my time to enjoy the appetizer. My appetizer was a creamy cake, yoghurt, 2 kinds of salads, few fruits, and some candies. Voila, my soup is ready. I forgot to mention that, I was not waiting for the sop to boiled before I put my ingredients there. Just simply put it, and wait until its cooked.

The taste of the lamb was marvelous, and the beef was awesome. I think beef taste better than the lamb, but as the texture and the smell Lamb is just beautiful. So overall, Lamb won! My dining table almost empty and then I started to take more food. My second strategy was, I want to taste all kind of food first. Halal one of course. So I went to the desert area. I started to take some chocolates, cake, and also few warm beverages. I took warm café late and hot chocolate. As I recall, I came back at least 3 times there, because there’s a lot to offer. I took an Ice cream, another type of creamy cake, dry-cake, another fruits. Well, I think I have tasted all kind of food and beverages there although only in a small amounts.

As my next strategy was, I can take another food or beverages with superb taste more. By walking around, I loosen my belly and also use the energy so I can take more of them. That strategy went quite well, until I found that one of my friend. Not the big and fat one, the small one, continues to eats, a lot. Darn..he has more awesome strategy. He eats slow, and low..take bite by bite, and enjoy all the food. Well okey, I must admit he is the man.. heheh..This is him.

The Man

Small body doesn’t define how good you at eating a lot of portion ^^

In the end, we took some pictures of ourselves, and also Me, taking a non-automatic-scooter motorcycle.. hihihi,, Ciao!!!! Se yaaa…

Categories: (EN), Food & Beverages, Taiwan (台灣) | Tags: , , , | Leave a comment

Jangan Duduk.

Dan akhirnya jatuh tersungkur ke lantai. Itulah sepenggal kejadian nyata yang baru saja terjadi kepada saya. Kejadian bermula saat saya sedang berada di dapur kampus, dan sedang menunggu menggoreng bahan makanan. Karena merasa sedikit capek setelah berdiri terlalu lama, akhirnya memutuskan untuk mencari kursi sebagai tempat singgah sementara. Dan di pojok ruangan akhirnya menemukan sekumpulan kursi. Dari sekumpulan kursi tersebut, Nampak beberapa kursi rusak, beberapa malah sudah lumayan parah. Dan salah satu dari kursi tersebut masih layak pakai, dan tinggi. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambill kursi itu, walaupun dudukannya sudah copot.

Kursi Rusak

Kursi yang men’jatuh”kan saya

Jadilah saya menduduki kursi luar biasa tersebut. Duduk sebentar, goyang-goyang, sembari menikmati cemilan makan malam, dan saat lalai karena sedan merasakan nikmatnya cemilan itu sayapun jatuh tersungkur. Teman saya yang berada di ruangan sebelah langsung berlari menghampiri saya dan memberitahu saya untuk lebih berhati-hati. Lalai, itulah sebenarnya yang terjadi.

Dari awal memang saya sudah tau bahwa kursi tersebut rusak, bahkan dengan bergoreskan Hanzi China yang kata teman saya berbunyi “Don’t seat” saya tetap nekat duduk. Saya tidak tau arti tulisan itu, maupun cara bacanya, namun secara jelas terlihat kursi tersebut memang sudah rusak.

Saya lalai, saya terlalu meremehkan. Kun fa yakun, semua yang terjadi maka terjadilah. Allah swt dengan jelas memberitahu kita mengenai hal itu, namun jarang dari kita yang memahami makna di balik kalimat tersebut. Sering kali kita lalai dan meremehkan hal kecil, seperti sering menunda untuk belajar bagi mahasiswa, menunda untuk membantu Ibu yang meminta kita untuk mengantar beliau pengajian di masjid, atau misalnya kita lalai untuk memberikan makan kucing peliharaan kita.

Benar adanya beribadahlah seolah-olah kita mati esok hari, dan uruslah urusan dunia seolah-olah kita hidup selamanya. Islam dengan indah sudah mengajarkan hal tersebut. Bagaimana kita harus memiliki keseimbangan dunia dan akherat. Bagaimana kita harus bisa memiliki kehandalan memilih prioritas yang baik.

Karena sepandai-pandainya manusia berencana dan berusaha, Alloh lah yang menentukan hasilnya. Untuk itu, kita diajarkan untuk selalu melakukan do’a dan pengharapan kepada Sang Khalik, Maha Mencipta. Terkadang kita berencana untuk mendapatkan hasil maksimal, ternyata diberikan kurang. Terkadang kita berencana biasa saja, Alhamdulillah diberikan yang istimewa. Wallahualam. Kita tidak pernah bisa mengetahui seluruh Ilmu yang dimiliki Allah swt, tapi kita bisa belajar sedikit demi sedikit ilmu dari-Nya. Kita bisa belajar untuk menghargai dan menikmati kejatuhan, kekurangan, musibah yang kita terima. Kita juga harus belajar bersedih dan mengkhawatirkan atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Yang jelas, menurut saya, bukan hanya bagaimana kita bisa terjatuh, atau bagaimana kita bisa menang, namun bagaimana kita bisa menghayati dan memaknai itu semua dan berbuat lebih baik lagi. Karena setelah terjatuh dari kursi tersebut saya lantas segera berdiri, dan tersenyum kepada kawan saya seraya mengatakan “I am fine, it’s my fault”.

Wassalamualaykum

Ahad 19 Agustus 2012|1 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Azbabun Nuzul.

Setelah beberapa kali mengunjungi blog kawan saya selama satu tahun terakhir di Taiwan ini, saya sendiri terinspirasi untuk membuat blog. Bukan kali pertama, namun sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Dari sudut pandang saya hasilnya tidak terlalu bagus. Berdasar keinginan untuk membukukan dalam media dunia maya, saya menggunakan akun WordPress saya untuk membuat blog yang baru. Alhamdulillah, sudah berjalan. Semoga bisa berjalan terus hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Semoga bisa merekam catatan kehidupan saya, bisa memberikan manfaat bagi saya sendiri khususnya dan juga bagi siapa saja yang membacanya.

Tulisan ini dibuat karena saya bosan sekali menunggu. Jemari saya tergelitik untuk menulis semacam catatan harian. Tentang apa saja. Tentang cinta, tentang hidup, kehidupan, semuanya.

Pagi ini mentari bersinar indah, merekah. Dipeluk birunya langit bersemikan awan. Namun apa daya, mata lelah karena belum sempat memejamkan mata semalam, menjadikan badan lemas di hari terakhir Ramadhan 1433 H ini. Dituntut untuk menyelesaikan publish paper dari Profesor, saya mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan semangat yang kadang timbul kadang tenggelam bak sinyal di ponsel saya.

Stop. Saya sampai di titik ini. Titik dimana harus ada alasan. Selalu ada alasan, terkadang kita yang tidak tahu. Dan sembari menuliskan dari tiga paragraph di atas, saya menemukan alasan untuk menulis “catatan” ini. Bahwa setiap hari kita sudah diberikan nikmat dan anugerah oleh Tuhan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. Satu hal yang seharusnya bisa kita lakukan adalah menikmati anugerah itu dengan ihsan dan ikhlas. Lalu mengamalkannya dengan niat ikhlas kepada Allah kepada seluruh makhuknya, manusia dan alam sekitar.

Wassalam

Sabtu 18 Agustus 2012|30 Ramadhan 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , , , , | Leave a comment

Idul Fitri 1433 H.

Eid-ul-Fitr, “Eid-ul-fitr”, Eid al-FitrId-ul-Fitr, or Id al-Fitr (Arabic: ‎عيد الفطر‘Īdu l-Fiṭr), often abbreviated to Eid, is a Muslim holiday that marks the end of Ramadhan, the Islamic holy month of fasting (sawm). Eid is an Arabic word meaning “festivity”, while Fiṭr means “breaking the fast”. The holiday celebrates the conclusion of the 29 or 30 days of dawn-to-sunset fasting during the entire month of Ramadan. The first day of Eid, therefore, falls on the first day of the month Shawwal. This is a day where Muslims around the world try to show a common goal of unity.

~paragraph pertama saat mengunjungi Wikipedia dengan kata kunci eid fitr~

Sebentar lagi, seluruh ummat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1433 H. (CMIIW =D). Kurang lebihnya 4 hari, jika artikel saya ini publish di hari yang sama. Idul Fitri adalah hari yang sangat ditunggu oleh Ummat Islam. Kenapa demikian? Tanyalah kepada mereka yang bekerja merantau di kota? Atau tanyalah kepada saudagar kaya di desa tercinta? Atau mungkin tanyalah kepada Penyiar Radio di Tunisia, Amerika, India, atau Papua.. (biar rima-nya cocok). Jawabannya bisa bermacam-macam, namun menurut saya secara umum adalah sama; Mereka rindu untuk berkumpul dengan keluarga, berkumpul di rumah.

(Namun, terlepas dari perasaan rindu, kangen dan lain sebagainya. Kita wajib memahami bahwa Idul Fitri adalah Ibadah. Idul Fitri adalah Ibadah yang dilakukan karena Allah Swt, karena kita telah berhasil melaksanakan perintah-Nya dalam melaksanakan Puasa 1 bulan penuh, Insha Allah)

Ya, memang itu yang dirasakan oleh penulis saat ini dan beberapa semester belakangan. Karena memang jauh dari keluarga dan merantau bak pemuda Minang. Sulit dipungkiri memang, rasa rindu untuk kembali ke rumah, untuk bertemu dengan keluarga, saudara handai taulan, sahabat. Terkadang terlintas juga di alam pikiran kita, “Lhah disini kita juga ketemu temen baru, sahabat baru. Ada keluarga baru juga. Namun, tetap saja ada sesuatu yang yang beda yang terkadang tidak bisa kita definisikan dengan mudah, kenapa kita bisa rindu sekali untuk “pulang”.

Entah kenapa saya jadi tidak fokus menulis artikel ini. Mungkin karena memang terlalu rindu sehingga mengaburkan konsentrasi saya. Namun, sebenernya di artikel ini saya ingin menyampaikan beberapa budaya di Indonesia yang sering dilakukan selama hari Raya Idul Fitri. Sekadar berbagi cerita apa yang biasanya saya lakukan selama 2-3 hari awal bulan Syawal; Idul Fitri –Red-

1.       Kumpul, Sholat Jama’ah, Bersalaman.

Mengenai pelaksanaan Ibadah Sholat Sunnah 2 raka’at idul Fitri. Bahwa kita diperintahkan berkumpul, dan sholat berjama’ah, dengan syarat dan tuntunan yang telah jelas diperintahkan. Masalah bersalaman ini yang perlu di perhatikan. Pasalnya, jika kita meyakini bahwa perintah untuk bersalaman hanya dilakukan atau diutamakan pada saat hari raya tersebut, sepengetahuan saya itu tidak ada tuntunannya. Yang perlu diperhatikan adalah, untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, kemudian mengucapkan salam saat bertemu saudara muslim yang lain, adalah diutamakan setiap saat. Setiap kali kita melakukan kesalahan. Bukan hanya diwaktu Idul Fitri. Jadi jangan sampai kita terjerumus bahwa melakukan salam-salaman setelah sholat Idul Fitri adalah kewajiban dan ada tuntunannya. Menurut saya, selama kita mengamalkan hal tersebut sebagai muamalah Insha Allah tidak ada dalil yang menyebutnya bid’ah atau mengharamkan. Wallahu’alam.

2.       Makan sarapan seperti biasanya (bukan sahur)

Nah, ini yang mantab. Hmm, karena sudah kebiasaan selama satu bulan makan pas dini hari dan matahari belum terbit. Kita bisa kembali menikmati makan di waktu matahari terbit, Lambung biasanya harus beradaptasi cukup kuat dengan hal ini. Biasanya di rumah, Ibu membeli ketupat kemudian memasakkan sambal tempe atau opor. Alhamdulillah. Dan Sarapan di hari Idul Fitri sebelum melaksanakan sholat adalah sunnah, dan hal ini di contohkan oleh Rasulallah swt. FYI, saat hari raya Idul Adha, Nabi Allah mencontohkan untuk tidak memakan sarapan, hingga selesai sholat Idul adha supaya bisa memakan daging korban sembelihan.

3.       Makan: yang ini wajib, ^^ ke tempat Alm. Eyang dulu.

 Lain lagi dengan yang ini. Setelah tadi sunnah untuk makan sebelum sholat Idul Fitri. Kegiatan makan yang ini dilakukan makanan yang sudah disiapkan di Rumah Alm. Eyang bisa habis dan tidak mubazir. ^^. Selama kita tidak berlebihan, Insha Allah diridhoi. Namun, karena Eyang sudah lama wafat, kami tidak bisa berkumpul lagi di rumah tua nan syahdu itu. Sekarang biasanya beberapa om dan tante saya datang mengunjungi rumah Ibu, karena beliau adalah anak tertua. Namun itupun sering dilakukan setelah 1 Syawal, karena mereka mengunjungi keluarga Ipar dahulu yang masih sehat Kakek-Neneknya.

4.       Makan: yang ini sunnah mu’akad. Yang dianjurkan dengan sangat. Makan saat mengunjungi keluarga dengan berkeliling.

 Lagi-lagi,, jangan sampai kekenyangan ya,, Sunnah Rasul “makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang”. Namun, sering pula kita lalai sebagai manusia. Jadi saran saya, pilih makanan yang banyak, namun sedikit kuantitasnya. Jadi kita bisa tetap menghargai mereka yang sudah capek memasak.

Itu tadi beberapa dari kegiatan saya selama Idul Fitri.  Selanjutnya, saya juga ingin berbagi tentang beberapa hal yang dianggap lazim, sebenarnya mungkin tidak (belum) pernah diajarkan oleh Rasulallah SAW. Budaya yang berkembang karena kebiasaan atau mungkin Bid’ah (wallahu’alam). Konteks saya disini hanya sekadar membagi informasi dari mini riset yang saya lakukan. Stay tune then..

1.       Mudik berjama’ah.

Untuk perkara yang satu ini wajib dilakukan bagi mereka yang jauh dan ingin ketemu dengan keluarga. Maksud saya, bagaimana bisa bertemu dengan keluarga jika raga tidak di tempat yang sama. Masalah kewajiban untuk pulang atau tidak, itu tergantung situasi, kondisi dan permintaan ibunda tercinta. Karena biasanya, keinginan mencium tangan ibunda tercinta bisa memberikan kekuatan besar dan motivasi untuk mudik. ^^

Yang jadi permasalahan sekarang adalah, mudiknya sendiri. Kita harus mengerti maksud dan tujuan kita melakukan mudik. Keliatannya sepele, tapi mengerti dan memahami di sini sebenarnya jauh lebih dalam lagi. Seperti misalnya, waktu memilih mudik. Seandainya masih diberikan kekuatan jasmani dan akal sehat, umumnya mudik dilakukan sebelum 1 Syawal. Dilakukan dengan pengharapan bisa melakukan sholat Idul Fitri berjama’ah dengan keluarga besar, dan berkumpul dengan keluarga. Masalahnya adalah?

Masalahnya adalah, berapa banyak dari kita yang mudik di bulan Ramadhan ini dan bahkan hingga membatalkan puasa karena alasan mudik? Kita harus jeli belajar dan memahami asal usul, kekuatan fiqh serta prioritasnya. Everyone has their own priority right?

Memang bagus niatan untuk pulang, namun jika karena alasan yang *sunnah dibandingkan kewajiban kita untuk berpuasa, apakah hal itu bisa dijadikan pembenaran? Menurut hemat penulis, jika kita melakukan mudik dan masih bisa melakukan ibadah sunnah, seperti Sholat Tarawih, Witir atau mengaji itu lebih baik. Namun jika lalai dikerjakan, ya Insha Allah tidak berdosa. Namun ingat, kewajiban kita di Bulan Ramadhan adalah Puasa, maka jalankanlah puasa itu.

2.       Baju baru, Alhamdulillah. Tuk dipakai di Hari Raya

“Apa iya kalau lebaran (Idul Fitri-Red), harus baju baru?”

Simak yang berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Belilah pakaian ini, engkau berhias dengannya dihari raya dan disaat para utusan datang mengunjungimu.”(HR.Bukhari: 925). Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar -Radhiallahu Anhu- bahwa Beliau memakai pakaiannya yang paling bagus pada dua hari raya.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dan Al-Baihaqi, Ibnu Hajar mensahihkan sanadnya dalam fathul Bari: 2/519)

Yang disampaikan dari hadits ini adalah, bahwa kita harus bersih dan indah saat akan melaksanakan Sholat Ied. Bersih, itu wajib saat kita akan melaksanakan sholat. Nah, kalau indah? Karena memang Sholat Ied dihadiri oleh ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu manusia maka sepantasnya kita mengenakan baju dan sandangan yang indah. Seandainya ada rezeki untuk membeli pakaian baru, akan lebih baik. Namun jika tidak ada, seperti yang diteladankan oleh Rasul Allah, Beliau mengenakan pakaian terbaiknya saat hari Raya Idul Fitri ini. Jadi memang benar, saat punya baju baru sudah sepatutnya mengucapkan syukur Alhamdulillah.

 3.       Halal bi Halal.

Ilmu bahasa Arab saya yang pas-pas an Alhamdulillah bisa mengerti arti kalimat ini, Halal dan halal. Menurut saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan tradisi silaturrahim saat hari Raya Idul Fitri.

Sedikit melakukan riset di google, saya menemukan website yang bagus untuk memberikan keterangan mengenai hal ini. Silakan kunjungi di sini.

Tadinya saya hanya ingin membahas mengenai nama saja, ternyata lebih lengkap dijelaskan di dalamnya. Jadi silakan berkunjung, dan dicermati dengan baik, Insha Allah bermanfaat.  Bahasan yang menarik dan lengkap tersebut mengetuk saya, bahwa kita HARUS BENAR-BENAR PAHAM DAN MENGERTI batasan antara beribadah dan muamalah, asal usul kejadian dan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah, maupun yang tidak dilaksanakan oleh Rasul.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.

“Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– sudah ada jika itu maslahat (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.” Waallahu’alam.

4.       “Minal aidin wal faizin”

Ungkapan yang ini paling sering digunakan saat bersalaman dan saling meminta maaf.  Saya berikan sedikit saran, saat ada orang lain mengucapkan “minal aidzin wal faidzin” silakan anda menjawab, bisa dengan sedikit mengeraskan suara. “Insha Allah, amin”. Pasti mereka akan bertanya. Ya, pertanyaan yang menggiring saya untuk melakukan riset lebih dalam lagi. Sekali lagi mengingatkan ini bukan amalan ibadah karena tidak ada dalilnya, tapi muamalah. Ok?

Jadi seperti ini penjelasannya:

 “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).”

“Minal aidin wal faizin (dari orang yang kembali dan menang)”

Kedua kalimat di atas berkembang dari tradisi dan sama sekali tidak pernah di contohkan oleh Rasulallah SAW. Namun, karena kebiasaan (‘urf) hal ini jadi berkembang luas.

Riwayat Rasulallah SAW, beliau menjawab: “ Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya adalah semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.”

Al-Baihaqi dalam kitabnya “As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab:  “Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari ‘Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.” Sedikit bahkan nyaris tidak ada sanad ke arah sana, satu diantaranya di dalam kitab tersebut Al-Baihaqi menerangkan:

عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Bahasan mengenai perkara ini bisa pembaca semua baca lebih dalam di sini.

Kesimpulan yang saya terima adalah bahwa, Rasulallah SAW, tidak mendahului mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka”, namun saat beliau disapa seperti itu, beliau tidak menyalahkan dan lantas menjawabnya. Lebih lanjut lagi, ucapan ini sering dilakukan oleh para shahabah dan tabi’in setelah hari raya Idul Fitri.

Mengutip dari situs tersebut: “Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya (dalam Islam) dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.

Dan sebaik-baik tingkah laku manusia adalah tingkah laku yang dicontohkan oleh Rasulallah, Muhammad SAW. Wallahualam bishowab.

Categories: (INA), Islam (الإسلام) | Tags: , , , , , | 2 Comments

Dari Penjaga Musholla.

“Elu terbukti Islam, karena mengucapkan dua kalimat syahadat. Kepatuhan lu (kepada Allah swt) terbukti, karena lo menegakkan sholat. Kesetiaan lu terbukti kalo lo menjalankan ibadah puasa. Kepedulian lu (Kepada sesama manusia) terbukti , kalo lu ber-Zakat. Dan totalitas lu, penyerahan diri lo pada Allah swt terbukti, kalo lo (mampu) menjalankan ibadah Haji.

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Quotes | Leave a comment

Taufiqy.

“Dalam Islam, hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya.

Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.

Categories: (INA), Islam (الإسلام), Quotes | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.