Posts Tagged With: Malas

Malas.

Saya sedang malas menulis. Bahkan saya melantukan indah tulisan kata-perkata di Microsoft word satu layar dan diganggu konsentrasi di layar sebelah. Saya yang menganggu, diri sendiri. Namun berbekal tekad menjadi penulis, bahkan mungkin memiliki buku suatu saat nanti, saya harus menjadi malas tapi tetap mengeluarkan karya tulisan. Sebatas mendisiplinkan diri sendiri. Harapan tinggi untuk bisa mendisiplinkan diri disemua hal yang diwajibkan oleh-Nya. Disiplin diri sendiri. Memberi contoh, mendisiplinkan orang lain, keluarga sendiri, calon keluarga…Amiin ^^.

Disiplin adalah kata yang sangat susah untuk dilakukan, JIKA hal-hal tersebut tidak dibiasakan sedari kita kecil di lingkungan keluarga kita sendiri. Ya, keluarga, adalah tempat kita belajar untuk pertama kali. Berapa banyak orang  yang masih ingat belajar kata, Mama, Mama, Mama, Papa? Begitu disiplin orang tua kita untuk mendidik kita tumbuh besar menjadi keluarga muslim yang baik, saling menghargai mencintai dengan wajar kepada Ibu, Ibu, Ibu, Bapak, Kakak, Adik dan semua saudara kita. Apakah pantas kita menjadi malas?

Rasulallah SAW, adalah panutan dan tauladan kita. Manusia sempurna yang sudah dipastikan Jannah di hari kemudian. Manusia utama yang hatinya senantiasa dibersihkan oleh malaikat yang turun langsung ke bumi. Beliau senantiasa memberi tauladan, bagaimana beliau mencontohkan untuk selalu sabar dan tawakkal saat kaum Quraish melempari dengan kotoran binatang, saat mereka menimpakan isi perut unta tatkala beliau Ruku’ dalam Sholatnya, atau bahkan saat beliau melaksanakan sholat malam hingga kaki beliau menjadi bengkak dan mencontohkan pada istri beliau, A’isah r.a. untuk bangun malam dan mengingat Allah swt dengan Qiyammul Lail adalah memiliki keutamaan yang tinggi.

Ah malas rasanya…. Mungkin, mungkin, jika kita bisa mengganti kata malas, kemudian menumbuhkan pengertian kepada anak-anak kita bahwa ‘malas’ itu adalah kata kerja untuk disiplin yang wajar, dan ‘rajin’ itu adalah kata kerja untuk tingkah laku disiplin yang luar biasa. Mungkin Allah Ta’ala memberikan kekuatan lebih bagi kita dan bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi Negara besar di dunia, Negara dengan muslim TERBANYAK DI DUNIA.

Semisal jika saat masuk sholat Shubuh adalah pukul 04:00 dini hari dan kewajiban yang ‘biasa’ untuk bangun jam 4 pagi itu bukanlah hal ‘disiplin’ tapi sudah dimaknai ‘malas’. Malas bukan lagi kata saat kita melaksanakan sholat Shubuh ketika matahari sudah menampakkan garis warnanya. Atau bahkan saat bintang itu sudah memerah menyapu embun-embun pagi, menggantinya dengan kehangatan. Itu adalah tindakan tercela. Astaghfirullah hal adzim.

Tidak ada lagi kata malas dengan lalai sholat shubuh tepat waktu. Itu sudah tercela. Kita dan anak-anak,  sekeluarga kita mengimani itu. ‘Malas’ adalah ketika bangun jam 4 pagi tepat kemudian mengambil wudhu dan sholat. Dan ‘rajin’ adalah bangun 10-20 menit lebih awal dari waktu adzan shubuh dan melaksanakan sholat Qobli Shubuh. Bukan lagi malas, tepat waktu, dan rajin namun diganti tercela, malas, dan rajin dengan kisaran waktu yang sama. Yaaaa, walapun tercela adalah kata sifat namun apa mau dikata, hal itu adalah unek-unek liar yang insha Allah memberikan faedah dan kebaikan.

Di masyarakat yang sekarang ini, bangun untuk sholat shubuh jam 4 sesuai waktu adzan adalah hal yang ‘Rajin’ bukan biasa… Wallahu’alam. Insha Allah tulisan malas saya yang mbulet ini tidak membingungkan.

Wassalamualaykum warrahmatullah wabarokatuh

Selasa 21 Agustus 2012 | 3 Shawwal 1433 H.

[A]

Categories: (INA), Diary | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.